BI: CAD aman, pelemahan rupiah tak perlu dikhawatirkan



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah kembali melemah pada hari ini, Selasa (8/5). Data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), kurs rupiah hari ini ada di level Rp 14.036 per dollar AS, melemah dari hari sebelumnya yang masih di bawah Rp 14.000 per dollar AS, yaitu Rp 13.956 per dollar AS.

Berdasarkan data Bloomberg, kurs rupiah ada di level Rp 14.052 per dollar AS. Pergerakan ini juga cukup jauh dari asumsi kurs rupiah dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018 yang dipatok sebesar Rp 13.400 per dollar AS.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara menjelaskan, pelemahan rupiah yang terjadi, utamanya lantaran rencana kelanjutan kenaikan bunga acuan Bank Sentral AS. Sehingga hal ini tidak hanya dialami oleh rupiah, tetapi juga mata uang negara lainnya.


"Bahkan negara maju seperti Swedia, Norwegia Australia juga melemah kursnya. Menurut kami sih volatilitasnya sementara saja," kata Mirza di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Selasa (8/5).

Mirza melanjutkan, pelemahan mata uang cenderung dialami oleh negara-negara yang angka ekspor dan impor barang dan jasanya defisit. Sementara kondisi Indonesia sendiri, transaksi berjalan memang mengalami defisit (current account deficit/CAD) , tetapi masih aman.

"Tahun lalu 1,7% terhadap PDB, tahun ini jadi 2,2%-2,3% terhadap PDB, itu masih sangat prudent," tambahnya.

Lagi pula, perkiraan pelebaran defisit tahun ini lebih disebabkan oleh peningkatan impor barang modal, barang mentah, dan barang setengah jadi yang dibutuhkan untuk produksi. Makanya, kenaikan impor juga akan berdampak positif pada ekonomi dalam negeri.

Soal peluang kenaikan suku bunga karena pelemahan rupiah ini, Mirza masih enggan memastikan. Yang jelas lanjut dia, pihaknya akan melihat data inflasi, ekspor, impor, neraca pembayaran, arus modal dunia, arah kebijakan moneter AS di Juni, hingga suku bunga negara tetangga.

"Malaysia naik, Korea naik, Australia naik. Nanti kami akses, kalau memang diperlukan kenaikan suku bunga ya kami harus melakukan adjustment," tambahnya. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Yudho Winarto