BI Dinilai Belum Perlu Naikkan Bunga di RDG Juni, Rupiah dan Inflasi Sudah Membaik



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia (BI) diperkirakan masih akan cenderung stabil pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) 17-18 Juni 2026. 

Ekonom PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) Myrdal Gunarto memproyeksikan BI akan tetap mempertahankan BI Rate di level 5,50% pada RDG pekan ini, mengingat menguatnya nilai tukar rupiah dan meredanya tekanan inflasi dinilai menjadi faktor yang memberi ruang bagi bank sentral untuk mempertahankan suku bunga acuan.

Baca Juga: DJP Reaktivasi 24.000 Wajib Pajak Dormant, Awas Ada Risiko Salah Sasaran


"Kalau dari proyeksi kami, BI tidak akan mengalami kenaikan BI Rate lagi. Dengan pergerakan rupiah sekarang yang sudah kembali ke bawah Rp 18.000 per dolar AS, bahkan sudah di kisaran Rp 17.600-an, seharusnya BI tidak perlu menaikkan suku bunga lagi," ujar Myrdal kepada Kontan, Selasa (16/6).

Menurutnya, penguatan rupiah telah membantu meredakan tekanan inflasi. Meski terdapat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, dampaknya terhadap inflasi dinilai masih relatif terbatas.

"Memang ada tekanan dari sisi harga BBM nonsubsidi yang mengalami kenaikan. Tapi kalau kita lihat, tekanan inflasinya tidak terlalu besar untuk bulan ini," katanya.

Selain itu, Myrdal juga melihat tidak ada dorongan dari perkembangan kebijakan suku bunga global yang mengharuskan BI mengambil langkah pengetatan tambahan dalam waktu dekat.

Dari sisi stabilisasi nilai tukar, ia menilai langkah-langkah yang telah dilakukan BI juga sudah cukup memadai. Salah satunya tercermin dari penyerapan dana melalui instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang dinilai telah memperkuat amunisi moneter bank sentral untuk menjaga stabilitas rupiah.

"Minggu lalu penyerapan dana melalui SRBI juga sudah cukup besar. Itu saya rasa sudah cukup untuk kebutuhan BI sebagai amunisi moneter dalam melakukan intervensi nilai tukar," ujarnya.

Baca Juga: Ditjen Pajak Raup Rp 20,63 Triliun dari WP Dormant, Begini Respons Ekonom

Myrdal juga memperkirakan kebutuhan BI untuk menyerap likuiditas tambahan akan semakin berkurang apabila tren penguatan rupiah terus berlanjut dan arus modal asing kembali masuk ke pasar domestik.

Menurutnya, meredanya tensi geopolitik global, khususnya antara Amerika Serikat dan Iran, telah memunculkan kembali sentimen risk-on di pasar keuangan sehingga mendorong investor global kembali masuk ke negara berkembang, termasuk Indonesia.

"Kalau tensi geopolitik global terus menurun, saya rasa BI masih belum butuh menyerap likuiditas lagi. Pergerakan rupiah juga berpotensi terus menguat akibat arus dana investor global yang kembali masuk setelah melihat sinyal risk-on dari perkembangan tersebut," jelasnya.

Ia menambahkan, apabila Selat Hormuz benar-benar kembali dibuka sepenuhnya, akan menciptakan sentimen positif di pasar.

"Kalau Selat Hormuz benar-benar dibuka, saya rasa akan ada pembalikan posisi rupiah yang tadinya sempat melemah sekarang menjadi menguat," pungkas Myrdal.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News