BI Dinilai Sudah All Out Jaga Stabilitas Rupiah di Tengah Tekanan Global



KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Global Market Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, menilai Bank Indonesia telah mengerahkan seluruh instrumen kebijakannya untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan global yang masih tinggi.

Menurut Myrdal, kondisi global yang belum kondusif membuat ekspektasi penguatan mata uang safe haven, terutama dolar AS masih sangat kuat, sehingga situasi tersebut turut memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

“Ada benarnya juga pelemahan rupiah karena persepsi pasar, karena kondisi global sedang tidak kondusif, sehingga ekspektasi terhadap penguatan dolar cukup kuat dan berdampak ke rupiah,” ujarnya kepada Kontan, Rabu (21/1/2026).


Baca Juga: Prabowo Temui Raja Charles III di Lanchaster House, Bahas Konservasi Gajah

Dari sisi domestik, Myrdal menyoroti suplai dolar dari eksportir, khususnya eksportir sumber daya alam non-migas, yang dinilai belum berjalan lancar. Kondisi ini membuat kinerja surplus perdagangan, meski telah bertahan selama 67 bulan berturut-turut, belum sepenuhnya tercermin pada penguatan rupiah.

“Padahal kita punya trade surplus yang panjang, cadangan devisa juga berlimpah, dan inflow di pasar keuangan. Tapi semuanya terlihat kurang berarti karena suplai dolar domestik tidak lancar,” jelasnya.

Myrdal menegaskan, tantangan stabilitas rupiah saat ini bukan semata-mata disebabkan oleh pergerakan dana asing jangka pendek atau hot money, melainkan persoalan keseimbangan suplai dan permintaan valuta asing di dalam negeri.

Dalam kondisi tersebut, ia menilai langkah-langkah BI sudah sangat optimal. Bank sentral telah melakukan intervensi di berbagai instrumen, mulai dari pasar spot, domestic non-deliverable forward (DNDF), non-deliverable forward (NDF), hingga instrumen swap.

Selain itu, kebijakan BI mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Edisi Januari 2026, juga dinilai tepat sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas makroekonomi dan nilai tukar rupiah.

“Kalau BI sudah melakukan intervensi di spot, DNDF, NDF, sampai swap, saya rasa itu sudah optimal. Termasuk juga dengan kebijakan menjaga suku bunga di 4,75%. Jadi apa yang dilakukan BI memang sudah terlihat all out,” pungkas Myrdal.

Myrdal memproyeksikan nilai tukar rupiah akan menguat pada akhir tahun 2026 ke level Rp 16.526 per dolar AS.

Baca Juga: Batas RI–Malaysia di Sebatik Bergeser, Indonesia Raih 127 Hektar Tanah

Selanjutnya: CEO JPMorgan Peringatkan Batas Bunga Kartu Kredit Trump Bisa Picu Bencana Ekonomi

Menarik Dibaca: 5 Khasiat Minum Jus Apel untuk Kesehatan Tubuh yang Luar Biasa

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News