BI Diproyeksi Masih Pertahankan Era Suku Bunga Tinggi Meski Rupiah Menguat



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penguatan nilai tukar rupiah setelah sempat menembus level Rp 18.000 per dolar AS belum cukup menjadi alasan bagi Bank Indonesia (BI) untuk melonggarkan kebijakan moneternya. 

Sejumlah ekonom menilai bank sentral masih perlu mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, bahkan tidak menutup kemungkinan kembali menaikkan BI Rate, demi menjaga stabilitas rupiah dan mengantisipasi berbagai risiko eksternal.

Kepala Ekonom BCA, David Sumual, melihat masih ada ruang bagi BI untuk menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 hingga 50 basis poin. 


Menurutnya, level BI Rate saat ini masih relatif tertinggal dibandingkan kenaikan imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) maupun Surat Berharga Negara (SBN).

Baca Juga: Summarecon (SMRA) Pertimbangkan Refinancing Obligasi di Era Suku Bunga Tinggi

"Untuk menjaga daya tarik aset rupiah dibandingkan negara emerging market lain, BI masih berpeluang menaikkan suku bunga 25 hingga 50 basis poin," ujar David.

Ia menilai kebijakan moneter yang ketat masih perlu dipertahankan hingga rupiah menunjukkan stabilitas yang lebih berkelanjutan. 

Selain instrumen suku bunga, BI juga dinilai perlu tetap aktif melakukan intervensi di pasar valuta asing serta mengoptimalkan penggunaan SRBI untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

Pandangan senada disampaikan Ekonom Bank Danamon Indonesia, Hosianna Evalita Situmorang. Ia memperkirakan BI Rate masih berpotensi naik 25 basis poin menjadi 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Juni.

Menurutnya, tingkat suku bunga yang kompetitif tetap diperlukan untuk menjaga daya tarik aset domestik dan menopang arus masuk modal asing.

Meski demikian, tidak semua ekonom melihat perlunya kenaikan suku bunga dalam waktu dekat. 

Ekonom BTN, Myrdal Gunarto, menilai kondisi rupiah yang telah kembali menguat ke bawah Rp 18.000 per dolar AS serta inflasi yang masih terkendali memberi ruang bagi BI untuk mempertahankan BI Rate di level 5,50%.

Baca Juga: Era Suku Bunga Tinggi, Prospek Emiten Semen Kian Berat

Menurut Myrdal, fokus kebijakan BI saat ini lebih tepat diarahkan pada pengelolaan likuiditas dan stabilisasi nilai tukar melalui instrumen SRBI. Langkah tersebut dinilai efektif memperkuat kapasitas intervensi BI di pasar valas tanpa harus menaikkan suku bunga acuan.

Sementara itu, Head of Macroeconomic and Financial Market Research PermataBank, Faisal Rachman, memperkirakan BI akan menjalankan strategi higher for longer, yakni mempertahankan suku bunga tinggi dalam periode yang lebih panjang.

Faisal memproyeksikan BI akan menahan suku bunga di level 5,50% pada RDG 17-18 Juni 2026. Namun, peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada kuartal III-2026 masih terbuka apabila tekanan eksternal kembali meningkat.

"Kami masih melihat adanya ruang kenaikan 25 bps lanjutan di kuartal III 2026," kata Faisal.

Ia menjelaskan, BI belum memiliki ruang yang cukup untuk segera beralih ke kebijakan yang lebih longgar. 

Risiko inflasi impor (imported inflation), potensi pelebaran defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD), serta ketidakpastian arah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau The Fed masih menjadi faktor yang perlu diwaspadai.

Baca Juga: Summarecon (SMRA): PPN DTP Jadi Stimulus Marketing Sales di Era Suku Bunga Tinggi

Meski risiko kenaikan harga energi mulai mereda setelah tercapainya kesepakatan damai antara AS dan Iran, tekanan eksternal dinilai belum sepenuhnya hilang. 

Pasar juga masih memperkirakan The Fed akan mempertahankan sikap hawkish dalam jangka waktu yang lebih lama.

Dengan kondisi tersebut, fokus utama BI dalam jangka pendek diperkirakan tetap pada menjaga stabilitas makroekonomi dan nilai tukar. 

Artinya, meskipun rupiah mulai pulih, era suku bunga tinggi diperkirakan masih akan bertahan dan kebijakan moneter ketat belum akan berakhir dalam waktu dekat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News