KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pasar saat ini tengah menanti keputusan Bank Indonesia (BI) dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulan ini yang berlangsung pada 16–17 Maret 2026 Di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang sudah sempat tembus ke atas Rp 17.000 serta meningkatnya tensi geopolitik global, bank sentral Indonesia diperkirakan akan memilih mempertahankan suku bunga acuannya. Saat ini suku bunga acuan (BI-Rate) berada di level 4,75%.
Asal tahu saja, mengutip Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup melemah 0,23% secara harian ke level Rp 16.997 per dolar AS pada perdagangan hari ini (16/3/2026). Posisi tersebut juga menjadi yang terburuk bagi rupiah sepanjang masa.
Baca Juga: Nurani Astra Salurkan Ambulans dan Alat Kesehatan bagi Korban Bencana di Sumatra Merespons kondisi ini, Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai opsi paling rasional bagi BI saat ini adalah menahan suku bunga. Ia menjelaskan, menaikkan suku bunga memang dapat memberikan sinyal kuat untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Namun langkah tersebut juga berisiko menekan momentum pertumbuhan ekonomi domestik yang saat ini masih perlu dijaga. Sebaliknya, menurunkan suku bunga dinilai bukan pilihan realistis dalam kondisi sekarang. Penurunan suku bunga berpotensi memperbesar tekanan terhadap rupiah yang masih bergerak dalam tren melemah. “Karena itu, menahan suku bunga sambil memperkuat kebijakan stabilisasi di pasar valas kemungkinan akan menjadi pilihan yang lebih seimbang,” jelas Yusuf kepada Kontan, Senin (16/2/2026). Ia menambahkan, BI juga masih memiliki sejumlah instrumen lain untuk menjaga stabilitas rupiah selain kebijakan suku bunga. Di antaranya melalui intervensi di pasar spot, penggunaan instrumen Domestic Non Deliverable Forward (DNDF), hingga penguatan operasi moneter di pasar obligasi.
Baca Juga: Hashim Pastikan Tak Ambil Untung dari Program 3 Juta Rumah Pemerintah Dengan kombinasi instrumen tersebut, stabilitas rupiah masih dapat dijaga tanpa harus mengorbankan pertumbuhan ekonomi secara berlebihan.
Dari sisi dampak keputusan BI terhadap rupiah, Yusuf menilai keputusan menahan suku bunga kemungkinan tidak akan langsung mendorong penguatan signifikan pada mata uang Garuda. Meski begitu, kebijakan tersebut dapat memberikan sinyal konsistensi arah kebijakan dan membantu meredam volatilitas jangka pendek. “Pasar biasanya lebih memperhatikan konsistensi arah kebijakan dan kemampuan otoritas menjaga stabilitas dibandingkan sekadar perubahan suku bunga dalam jangka pendek,” pungkasnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News