BI diramal masih akan menahan suku bunga acuan, ini alasannya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank Permata memperkirakan bahwa Bank Indonesia (BI) akan mempertahankan suku bunga acuan di level 3,5% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Mei 2021. 

Kepala ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, salah satu pertimbangan BI adalah masih dibutuhkannya tingkat suku bunga yang relatif rendah agar proses pemulihan ekonomi tetap berjalan. 

“Di sisi lain, BI diperkirakan akan memilih untuk menjaga stabilitas nilai tukar, seiring dengan risiko dari The Fed terkait kebijakan tapering off,” ujar Josua kepada Kontan.co.id, Rabu (16/6). 


Baca Juga: Ekonom Bank Mandiri ini prediksi BI akan pertahankan bunga acuan 3,5%

Penahanan suku bunga acuan tersebut juga diperkirakan berlangsung hingga akhir tahun 2021. Sehingga, di jangka pendek, BI akan hadir dengan kebijakan akomodatif berupa injeksi likuiditas atau quantitative easing (QE).

Selain itu, BI juga akan. hadir dengan triple intervension di pasar spot, DNDF, dan pasar obligasi sebelum akhirnya mempertimbangkan normalisasi kebijakan moneter. 

Ke depan, suku bunga acuan diperkirakan tak selamanya rendah. Namun, BI baru akan menaikkan suku bunganya ketika The Fed sudah mulai memberikan sinyal kuat dan konfirmasi terkait normalisasi suku bunganya. 

Bank sentral diyakini masih akan mengelola stabilitas perekonomian dengan mendorong pendalaman pasar uang, sehingga kondisi likuiditas dapat terkelola dengan baik. 

Baca Juga: BRI sebut kredit mikro bisa tumbuh dobel digit dibandingkan segmen lain saat pandemi

Selain itu, BI masih akan memperkuat kerja sama bilateral swap agreement dengan bank sentral global dalam rangka memastikan likuiditas valuta asing (valas). Pun, BI akan memperkuat kerja sama local currency settlement (LCS) dengan bank sentral di regional Asia untuk mengurangi ketergantungan terhadap dollar AS. 

Dengan kombinasi kebijakan tersebut, diharapkan kondisi likuiditas valas akan tetap terjaga yang berimplikasi pada cadangan devisa yang berada dalam level yang solid serta penguatan pendalaman pasar keuangan domestik diharapkan akan membatasi dampak negatif yang berpotensi ditimbulkan oleh normalisasi kebijakan moneter AS. 

Selanjutnya: Ekspor bangkit, ekonom optimistis pertumbuhan ekonomi kuartal II 2021 positif

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Tendi Mahadi