KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank Indonesia memberi sinyal pergeseran arah kebijakan moneter pada 2026 dengan lebih memprioritaskan stabilitas ekonomi dibanding mendorong pertumbuhan. Langkah itu sekaligus membuka ruang bagi kenaikan suku bunga demi menjaga nilai tukar rupiah dan menahan arus keluar modal asing. Gubernur Perry Warjiyo mengatakan tekanan global yang semakin tinggi membuat kebijakan moneter tidak lagi bisa sepenuhnya diarahkan untuk menopang pertumbuhan ekonomi seperti tahun lalu. “Kalau di 2025
monetary policy pada waktu
prosperity and growth. Tapi dengan global seperti ini,
monetary policy-nya tidak bisa lagi
pro growth. Harus kembali kepada
stability,” ujar Perry dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI, Senin (18/5/2026).
Baca Juga: Sudah All Out! BI Optimistis Rupiah Menguat ke Kisaran Rp 16.500 pada Mulai Juli 2026 Perry menjelaskan, pada tahun 2025 BI masih memiliki ruang untuk mendukung pertumbuhan ekonomi melalui pelonggaran kebijakan moneter. Bahkan, BI telah lima kali menurunkan suku bunga karena kondisi global saat itu belum memicu tekanan besar terhadap arus modal keluar. “Kenapa tahun lalu kami turunkan suku bunga lima kali? Karena waktu itu tidak terjadi
outflow,” katanya. Namun situasi kini berubah. Tingginya suku bunga Amerika Serikat (AS), lonjakan
yield US Treasury, hingga ketegangan geopolitik global mendorong penguatan dolar AS dan memicu pelarian modal dari negara berkembang. Menurut Perry, kondisi tersebut membuat BI harus lebih agresif menjaga stabilitas rupiah dan pasar keuangan domestik, termasuk melalui kemungkinan penguatan kebijakan moneter. “Kalau suku bunga dalam negeri tidak naik, ya
outflow. Tapi kalau tidak mau
outflow, suku bunga domestik harus naik,” ujarnya.
Baca Juga: Komisi XI DPR Minta BI Serius Jaga Rupiah Agar Tak Menekan Ekonomi Domestik BI sendiri sebelumnya telah menaikkan imbal hasil instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) hampir 100 basis poin untuk menarik aliran modal asing masuk ke pasar domestik. Langkah tersebut mulai menunjukkan hasil. Perry menyebut pada April hingga Mei 2026 telah terjadi
inflow dana asing ke instrumen SRBI sekitar Rp 75 triliun. Selain itu, BI juga meningkatkan intervensi di pasar valuta asing untuk meredam gejolak rupiah. “Kami lakukan
all out. Dosis intervensinya kami tingkatkan,” katanya. BI mengakui langkah stabilisasi tersebut berdampak pada penurunan cadangan devisa sekitar US$ 10 miliar. Meski begitu, Perry memastikan posisi cadangan devisa Indonesia masih berada pada level aman sesuai standar IMF. Di sisi lain, BI juga memperketat pembelian dolar AS tanpa
underlying transaksi. Mulai Juni 2026, batas pembelian dolar tanpa
underlying akan kembali dipangkas dari US$ 50.000 menjadi US$ 25.000.
Meski tekanan global masih tinggi, Perry tetap optimistis rupiah akan mulai menguat pada semester II 2026 setelah tekanan permintaan devisa musiman mereda. “Pengalaman kami kalau April, Mei, Juni memang
demand devisa tinggi. Nanti Juli, Agustus akan menguat,” ujarnya. BI pun masih mempertahankan keyakinan rata-rata nilai tukar rupiah sepanjang 2026 tetap berada dalam kisaran asumsi makro APBN, yakni Rp 16.200-Rp 16.800 per dolar AS dengan rata-rata di level Rp 16.500. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News