BI Hadapi Dilema Kebijakan Suku Bunga, Jaga Stabilitas dan Pertumbuhan



KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Bank Indonesia (BI) menghadapi tantangan dalam menentukan arah kebijakan suku bunga di tengah kebutuhan menjaga stabilitas ekonomi sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Kepala Grup Makroekonomi Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia Jardine A. Husman mengatakan, BI perlu menjaga keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan dalam mengkalibrasi suku bunga kebijakan.

"Kami memahami bahwa terdapat keseimbangan yang sangat rumit yang harus dijaga, yaitu menjaga stabilitas sekaligus mendukung pertumbuhan," ujar Jardine dalam acara Bappenas-ADBI Joint Conference on Asian Countries' Long Term Development Visions, Rabu (9/9).


Baca Juga: Kemenkeu Beberkan PR Indonesia agar Lolos dari Middle Income Trap

Menurutnya, BI mengkalibrasi suku bunga kebijakan pada tingkat yang memadai untuk menjaga stabilitas. Namun, bank sentral tidak hanya mengandalkan suku bunga untuk menjalankan kebijakan moneternya.

BI juga memanfaatkan berbagai instrumen moneter lainnya untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus menyediakan likuiditas yang memadai bagi perekonomian.

Salah satunya melalui optimalisasi Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Instrumen tersebut digunakan untuk menarik aliran masuk portofolio asing sehingga dapat membantu menjaga stabilitas rupiah.

"Kami mengoptimalkan SRBI untuk menarik aliran masuk portofolio asing guna menstabilkan rupiah, sekaligus menyediakan likuiditas yang memadai," jelas Jardine.

Di sisi lain, BI juga memperluas kebijakan insentif untuk menarik aliran masuk portofolio asing, mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valuta asing, serta meningkatkan likuiditas di pasar domestik.

Jardine menekankan bahwa stabilitas makroekonomi merupakan fondasi penting untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkelanjutan.

Menurutnya, di tengah ketidakpastian global dan berbagai risiko geopolitik, Indonesia membutuhkan ketahanan sektor eksternal yang kuat. Namun, penguatan stabilitas tersebut tetap harus berjalan beriringan dengan upaya mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

"Hal yang paling penting untuk mencapai pertumbuhan yang stabil dan berkelanjutan, serta pertumbuhan yang tinggi, adalah stabilitas," katanya.

Selain kebijakan moneter, BI menggunakan kebijakan makrofinansial dan sistem pembayaran untuk menopang aktivitas ekonomi.

Kebijakan makroprudensial diarahkan untuk mendukung penyaluran kredit perbankan kepada sektor riil dengan tetap menjaga stabilitas sistem keuangan. 

Sementara itu, kebijakan sistem pembayaran diarahkan untuk memperluas penerimaan pembayaran digital, memperkuat struktur industri sistem pembayaran, serta meningkatkan keandalan dan ketahanan infrastrukturnya.

BI juga terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah, Kementerian Keuangan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dalam menjaga stabilitas sistem keuangan.

Baca Juga: Harga Minyak Naik, Kemenkeu Ungkap Risiko ke Subsidi hingga Rupiah

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News