KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank Indonesia (BI) diperkirakan menghadapi dilema dalam menentukan arah suku bunga acuan pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Rabu (21/10/2026). Tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan gejolak pasar saham menjadi pertimbangan penting bagi bank sentral, di tengah kebutuhan menjaga momentum pertumbuhan ekonomi domestik. Mengutip
Reuters, hasil survei terhadap 29 analis pada 13–19 Oktober menunjukkan, mayoritas tipis memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di level 5,75%.
Baca Juga: Belanja Negara Rp 1.300 Triliun di Kuartal IV-2026, Defisit APBN Mengintai Sebanyak 15 analis memperkirakan BI akan menahan suku bunga. Sementara itu, 13 analis memprediksi kenaikan sebesar 25 basis poin (bps), sedangkan satu analis memperkirakan kenaikan lebih besar, yakni 50 bps. Perbedaan proyeksi tersebut mencerminkan ketidakpastian arah kebijakan moneter, terutama setelah tekanan terhadap rupiah kembali meningkat dan pasar saham domestik mengalami aksi jual tajam. Dalam beberapa hari terakhir, pasar keuangan Indonesia kembali bergejolak setelah MSCI memperingatkan kemungkinan menurunkan status pasar saham Indonesia menjadi standalone market. Peringatan tersebut memicu aksi jual besar-besaran di bursa domestik.
Reuters melaporkan, penurunan IHSG selama dua sesi perdagangan berturut-turut bahkan lebih tajam dibandingkan penurunan yang terjadi pada periode krisis keuangan Asia 1998. Di pasar valuta asing, rupiah bergerak relatif stagnan pada awal perdagangan Rabu. Meski demikian, mata uang Indonesia masih menjadi mata uang negara berkembang Asia dengan kinerja terburuk sepanjang tahun ini, setelah melemah lebih dari 7% terhadap dolar Amerika Serikat (AS). BI sebelumnya telah menaikkan suku bunga acuan sebanyak tiga kali dengan total 100 bps pada Mei hingga Juni 2026 untuk menopang rupiah. Langkah tersebut ditempuh setelah rupiah menyentuh level terendah sepanjang sejarah pada Juni lalu, di tengah melemahnya sentimen investor terhadap perekonomian terbesar di Asia Tenggara tersebut. Setelah rangkaian kenaikan itu, BI mempertahankan suku bunga acuannya hingga menjelang keputusan terbaru.
Baca Juga: Wacana Gaji ASN Lewat Kopdes Makin Kencang, Ini Kata Menkeu BI menghadapi dilema kebijakan Tekanan terhadap nilai tukar bukan satu-satunya pertimbangan BI. Bank sentral juga perlu memperhitungkan dampak suku bunga terhadap permintaan domestik dan pertumbuhan ekonomi, terutama di tengah meningkatnya tekanan eksternal maupun risiko fiskal dalam negeri. Sejumlah ekonom dan investor menyoroti keberlanjutan fiskal Indonesia di tengah rencana belanja pemerintah Presiden Prabowo Subianto serta besarnya beban subsidi bahan bakar minyak (BBM). Kekhawatiran mengenai independensi bank sentral juga menjadi perhatian pelaku pasar. Ekonom dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia (LPEM UI) memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga. Namun, mereka menekankan bahwa bank sentral tetap perlu bersiap mengambil langkah apabila tekanan terhadap rupiah semakin meningkat. Menurut mereka, tekanan eksternal dan domestik, termasuk pengetatan kebijakan moneter AS dan peningkatan inflasi, membuat BI harus menyeimbangkan sejumlah prioritas kebijakan.
Baca Juga: Resmi! Inilah Jadwal Haji 2027: Berangkat Mulai 11 April, Wukuf 15 Mei 2027 Kenaikan suku bunga berpotensi membantu meredam tekanan nilai tukar dan menjaga kepercayaan investor. Namun, pengetatan moneter lebih lanjut juga berisiko menekan permintaan domestik. Berbeda dari proyeksi sebelumnya, Citi Research mengubah perkiraannya dari mempertahankan suku bunga menjadi kenaikan sebesar 50 bps. Citi menilai, BI berpotensi mengambil langkah antisipatif untuk mencegah arus keluar modal asing dari pasar saham meluas ke pasar surat utang atau obligasi.
Di sisi lain, BI menjadwalkan konferensi pers keputusan suku bunga pada pukul 13.30 WIB, atau 30 menit lebih awal dibandingkan jadwal biasanya. Bank sentral menyebut perubahan jadwal tersebut dilakukan untuk menyesuaikan agenda Gubernur BI Destry Damayanti, tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut. Keputusan BI akan menjadi perhatian pelaku pasar karena berpotensi memengaruhi pergerakan rupiah, pasar obligasi, dan saham, sekaligus memberikan sinyal mengenai prioritas bank sentral dalam menjaga stabilitas keuangan tanpa mengabaikan pertumbuhan ekonomi. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News