BI harus antisipasi pelemahan rupiah Mei dan Juni



JAKARTA. Cadangan devisa Indonesia pada akhir Maret 2015  lalu  turun menjadi US$ 111,55 miliar. Cadangan sebanyak ini  tergerus US$ 3,95 miliar dibanding posisi akhir Februari yang sebesar US$ 115,5 miliar. Selain untuk pembayaran utang luar negeri (ULN) pemerintah, cadangan devisa  turun karena dipakai untuk stabilisasi nilai tukar rupiah.

Ekonom Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianingsih mengatakan, Maret lalu memang terjadi arus dana keluar atau ouflow yang cukup besar. Dia mencatat, di pasar saham terjadi ouflow US$ 400 juta dan di pasar obligasi terjadi outflow Rp 4 triliun. Ketidakstabilan nilai tukar rupiah menjadi salah satu penyebab investor menarik dananya.  

Outflow tersebut menjadi salah satu penyebab cadangan devisa menurun. Pundi-pundi cadangan devisa kian berkurang seiring datangnya periode pembayaran ULN pemerintah yang terjadi akhir triwulan pertama, yaitu Maret lalu .


Ke depan, posisi cadangan devisa Indonesia bakal mengalami tekanan yang lebih besar, seiring  meningkatnya potensi penurunan rupiah.  

Memasuki Mei dan Juni permintaan dollar dalam negeri  akan naik, ditambah isu Bank Sentral Amerika The Fed akan menaikkan suku bunganya. Dalam tekanan ini, rupiah berisiko anjlok ke kisaran Rp 13.200 petr dolar AS di bulan Mei dan Juni. Untuk menguatkan rupiah, tentu dibutuhkan cadangan devisa yang tak sedikit. Agar hal buruk itu tak terjadi,  Lana menyarankan BI bergerak bulan ini menguatkan rupiah ke kisaran Rp 12.800 per dollar AS. "Sehingga kalau ada tekanan di Mei Juni, rupiah tidak perlu lagi melewati level Rp 13.200," ujarnya. Cara yang bisa dilakukan BI untuk menguatkan rupiah ke arah Rp 12.800 per dollar AS adalah menarik peredaran rupiah atau dengan menggelontorkan cadangan devisa. BI harus memanfaatkan momen di April ini di mana permintaan dollar tidak tinggi.  Sebab, akan semakin sulit bagi BI melakukan intervensi jika rupiah terlanjur menembus Rp 13.200 per dollar AS. Berbeda dari Lana, Ekonom Bank Danamon Dian Ayu Yustina melihat penurunan cadangan devisa Maret lalu lebih banyak disebabkan pembayaran ULN pemerintah. Adapun pemakain cadangan devisa untuk menopang rupiah, kata Dian, tidak terlalu besar. Dian menilai BI cenderung berhati-hati mengeluarkan cadangan devisa untuk menstabilkan rupiah. Pasalnya, pengaruh eksternal kuat sehingga sia-sia bagi BI apabila mengintervensi pasar. "Tahun ini menjadi tahun yang sangat volatile bagi rupiah,"  ujarnya. Menurut Dian, untuk mempertebal cadangan devisa, Indonesia harus meningkatkan volume ekspor minyak dan gas.

Ke depan, Dian memperkirakan cadangan devisa Indonesia masih bertahan di atas US$ 100 miliar. Penerbitan samurai bond yang akan dilakukan pemerintah dalam waktu dekat bisa menambah pasokan cadangan devisa.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Mesti Sinaga