BI: Inflasi Volatile Food Meningkat Imbas Kenaikan Harga Pangan dan Pupuk Global



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan, inflasi volatile food (VF) mengalami peningkatan akibat kenaikan harga pangan dan pupuk global.

Pada Februari 2026, inflasi volatile food tercatat sebesar 2,5% secara bulanan (month to month/mom) dan 4,64% year on year (yoy).

“Sementara inflasi VF meningkat akibat kenaikan harga pangan dan pupuk global,” tutur Perry dalam konferensi pers, Selasa (17/3/2026).


Sebagaimana diketahui, inflasi pada Februari 2026 tercatat sebesar 4,76% yoy terutama dipengaruhi oleh faktor temporer base effect dari kebijakan diskon tarif listrik rumah tangga sebesar 50% pada Januari dan Februari 2025.

Baca Juga: BI: Ramadan Topang Pertumbuhan Ekonomi Indonesia di Kuartal I 2026!

Inflasi inti tetap terjaga sebesar 2,63% yoy terutama didorong oleh kenaikan harga emas. Sedangkan Inflasi kelompok volatile food tercatat sebesar 4,64% yoy, tetap terjaga di tengah peningkatan permintaan pada periode perayaan HBKN Tahun Baru Imlek dan periode Ramadan 1447 H dan penurunan pasokan akibat gangguan cuaca.

Meski demikian, ke depan, Perry memandang inflasi IHK tahun 2026 dan 2027 tetap dalam kisaran 2,5% plus minus 1%, meskipun lebih tinggi dari prakiraan sebelumnya dipengaruhi oleh prospek harga komoditas global yang meningkat.

“Inflasi inti diprakirakan tetap terkendali, sementara inflasi volatile food meningkat akibat kenaikan harga pangan dan pupuk global,” tandasnya.

Baca Juga: Redam Gejolak Rupiah, Gubernur BI Pastikan Optimalkan Instrumen Moneter

Lebih lanjut, BI juga akan terus memperkuat respons kebijakan moneter pre-emptive serta bersinergi dengan Pemerintah dalam Tim Pengendalian Inflasi Pusat/Daerah (TPIP/TPID) melalui penguatan implementasi Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS) guna menjaga inflasi tetap terkendali dalam sasarannya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News