KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat salah satu penurunan bulanan terdalam dalam beberapa tahun terakhir dengan pelemahan sekitar 12% pada Mei 2026. Tekanan jual besar-besaran terjadi setelah sejumlah perubahan kebijakan diumumkan pemerintah, yang memicu aksi keluar investor asing secara masif dari pasar modal Indonesia. Analis CGS International Sekuritas Indonesia, Hadi Soegiarto, dalam riset tertanggal 10 Juni 2026, menyebut investor cenderung memilih keluar ketimbang menunggu kepastian implementasi kebijakan tersebut. “Investor saat ini lebih memilih untuk menjual daripada menunggu rincian implementasi kebijakan. Ini menunjukkan tingkat kehati-hatian yang sangat tinggi di pasar,” ujar Hadi.
Baca Juga: Telkom (TLKM) Revisi Capex & Hadapi Pelemahan Rupiah, Target Harga Saham Dipangkas Selain faktor domestik, pasar juga tertekan oleh ketegangan geopolitik berkepanjangan di Iran yang turut memperburuk sentimen global dan meningkatkan kekhawatiran terhadap pelebaran defisit fiskal Indonesia yang lebih besar dari perkiraan. Arus keluar dana asing yang signifikan membuat valuasi pasar saham Indonesia tertekan tajam. Menurut Hadi, saham dalam cakupan riset CGS International kini diperdagangkan pada rasio price-to-earnings (P/E) sekitar 7,2 kali, jauh di bawah rata-rata 11 tahun sebesar 14,8 kali, bahkan lebih rendah dibandingkan level terendah sebelumnya di 9,5 kali yang hanya terjadi singkat saat pandemi Covid-19. “Besarnya outflow menunjukkan bahwa prioritas investor saat ini adalah stabilitas, bukan sekadar valuasi murah,” jelasnya. Meski tekanan masih kuat, IHSG mencatat rebound 10,5% dalam dua hari perdagangan pada 8–9 Juni 2026. Namun, IHSG masih berada sekitar 15% di bawah level akhir April dan turun 32% secara year-to-date (YTD). Pemulihan ini dipicu oleh langkah agresif Bank Indonesia yang menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada 9 Juni 2026, disertai peningkatan imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk menarik kembali arus modal asing. “Kebijakan ini bertujuan memperkuat rupiah dan menahan outflow,” kata Hadi. Sejak kebijakan tersebut diumumkan, rupiah menguat sekitar 2% terhadap dolar AS dalam dua hari penguatan harian terkuat sejak Januari 2026. Perubahan sentimen pasar juga dipengaruhi sejumlah perkembangan domestik lain, termasuk penahanan Kepala Badan Gizi Nasional pada 3 Juni 2026 yang membuka ekspektasi penyesuaian program makan bergizi gratis beserta anggarannya. Selain itu, kenaikan harga bahan bakar nonsubsidi Pertamax RON92 pada 10 Juni 2026 dinilai sebagai sinyal positif disiplin fiskal. Kebijakan tersebut berpotensi menghasilkan penghematan anggaran hingga puluhan triliun rupiah apabila harga minyak tetap tinggi hingga akhir tahun. Meski terdapat perbaikan jangka pendek, Hadi menilai ketidakpastian masih tinggi, terutama menjelang tinjauan peringkat kredit sovereign Indonesia oleh S&P yang diperkirakan berlangsung pada Juni atau Juli 2026. “Key downside risk saat ini adalah hasil review sovereign rating yang bisa memengaruhi arus modal lebih lanjut,” ujarnya. Di sisi lain, potensi katalis positif masih terbuka dari kemungkinan pemangkasan belanja pemerintah lebih lanjut guna menjaga stabilitas fiskal.
Baca Juga: Regulasi Tambang Lebih Jelas, Sentimen Positif Mengalir ke Saham Emiten Nikel Seiring perubahan kondisi pasar, CGS International juga merevisi daftar saham pilihan utamanya. Saham yang kini masuk antara lain BBCA, BBNI, BMRI, ASII, KLBF, WIIM, dan MAPA, dengan fokus pada bank besar, saham siklikal, serta emiten yang telah terkoreksi dalam. Sementara itu, sejumlah saham dikeluarkan dari daftar, termasuk MEDC yang terdampak penurunan harga minyak, EXCL dan CMRY yang sejalan dengan pelemahan IHSG, serta sektor agribisnis seperti DSNG dan TAPG yang tertekan kebijakan ekspor terpusat. Saham emas ARCI juga terkoreksi tajam, sementara saham rokok HMSP dan GGRM ikut melemah seiring tekanan pasar secara umum. “Rotasi ini mencerminkan perubahan preferensi ke saham dengan fundamental kuat dan valuasi yang sudah terkoreksi dalam,” tutup Hadi. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News