BI Kurangi Intervensi Rupiah Spot, Bagaimana Nasib Rupiah dan Aset Investasi?



lKONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bank Indonesia (BI) mengubah bauran intervensinya di pasar valuta asing dengan mengurangi porsi intervensi di pasar spot dan memperbesar peran instrumen kontrak berjangka. Perubahan strategi ini turut mempengaruhi dinamika pasar keuangan, terutama pergerakan rupiah, pasar surat utang, dan pasar saham domestik.

Untuk diketahui, Gubernur BI Destry Damayanti, menyatakan BI mengurangi intervensi di pasar spot untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, karena langkah tersebut dinilai lebih banyak menguras cadangan devisa (cadev). Saat ini, porsi intervensi di pasar spot kini hanya sekitar 30% dari total intervensi BI.

Pun, BI lebih banyak melakukan intervensi melalui pasar kontrak berjangka valuta asing, seperti domestic non-deliverable forward (DNDF) dan non-deliverable forward (NDF).


Baca Juga: Fitch Beri Rating AA+ untuk Obligasi dan Sukuk Tower Bersama (TBIG) Rp 2,37 Triliun

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, berpandangan perubahan strategi BI kali ini ialah penyesuaian bauran intervensi, bukan berkurangnya komitmen dalam menjaga rupiah.

“Namun, ada pesan penting di balik perubahan tersebut. BI menyadari bahwa stabilitas rupiah tidak dapat hanya mengandalkan intervensi,” terang Yusuf kepada Kontan, Rabu (30/9/2026).

Kondisi ini juga memberikan dampak kepada sejumlah aset investasi berdenominasi rupiah. Bagi pasar surat utang, dampaknya cenderung netral hingga sedikit positif. Selama volatilitas rupiah dapat dikendalikan tanpa menguras cadangan devisa secara berlebihan, risiko kurs bagi investor asing menjadi lebih terukur.

Baca Juga: IHSG Ditutup Turun 0,83% ke 6.071 pada Rabu (30/9), GOTO, MEDCO, CUAN Top Losers LQ45

Tantangannya, daya tarik SBN saat ini sangat dipengaruhi oleh selisih imbal hasil dengan obligasi pemerintah AS. Ketika selisih tersebut menyempit, investor akan meminta imbal hasil SBN yang lebih tinggi sebagai kompensasi risiko. Meski, saat ini yield SBN tenor 10 tahun memang sudah di level tinggi, 7,2%

Untuk SRBI, instrumen ini masih relevan sebagai penyangga arus modal jangka pendek. Suku bunga BI yang berada di level 5,75% menjaga imbal hasilnya tetap menarik. Namun, ketergantungan pada dana jangka pendek juga perlu dikelola karena arus modal semacam ini dapat berbalik cukup cepat ketika kondisi global berubah.

Sementara itu, tekanan terhadap IHSG lebih banyak berasal dari kenaikan imbal hasil obligasi AS dan ekspektasi pengetatan lanjutan oleh The Fed, bukan dari perubahan strategi intervensi BI. Imbal hasil yang tinggi meningkatkan tingkat diskonto sehingga menekan valuasi saham

“Pelemahan rupiah juga membebani perusahaan yang memiliki utang dolar atau bergantung pada bahan baku impor. Sebaliknya, perusahaan berorientasi ekspor dapat memperoleh manfaat dari penguatan dolar,” jelasnya.

Baca Juga: Rupiah Ditutup Menguat Rp 17.894 Per Dolar AS Hari Ini (30/9), Paling Unggul di Asia

Dengan kondisi ini, Yusuf pun memperkirakan yield SBN tenor 10 tahun akan bergerak di kisaran 7,0%-7,4%. SRBI kemungkinan tetap menarik selama BI mempertahankan suku bunga.

Adapun IHSG cenderung bergerak volatil, dengan area 6.200 hingga 6.300 sebagai zona pengujian. Peluang pemulihan tetap terbuka apabila imbal hasil obligasi AS menurun dan tekanan terhadap rupiah mereda.

Ke depan, sejumlah faktor perlu diperhatikan oleh investor. Seperti keputusan The Fed, pergerakan imbal hasil obligasi AS, harga minyak, inflasi domestik, respons BI, arus modal asing, serta kredibilitas fiskal 2027.

Strateginya, dalam kondisi seperti ini Yusuf menyebut pendekatan bertahap lebih masuk akal. SBN dapat diakumulasi ketika imbal hasil meningkat, SRBI dapat digunakan untuk menjaga likuiditas, sedangkan pemilihan saham sebaiknya berfokus pada perusahaan dengan arus kas kuat, dividen yang konsisten, dan paparan utang dolar yang terbatas.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News