BI Kurangi Intervensi Spot, Rupiah Berpeluang Menguat ke Rp17.500



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Ruang penguatan rupiah masih terbuka meski nilai tukar kembali mendekati level Rp18.000 per dolar AS. Ekonom BCA David Sumual menilai kondisi eksternal akan menjadi faktor penting bagi pergerakan rupiah, di tengah strategi Bank Indonesia (BI) yang mulai mengurangi intervensi langsung di pasar spot.

BI diketahui menggeser sebagian intervensi valuta asing (valas) dari pasar spot ke instrumen non-spot, termasuk Non-Deliverable Forward (NDF). Porsi intervensi BI di pasar spot saat ini sekitar 30%.

Langkah tersebut merupakan bagian dari strategi BI dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus mengelola penggunaan cadangan devisa.


David menilai perubahan komposisi intervensi tersebut dapat membantu membuat transaksi valas lebih terdistribusi. Dengan demikian, tekanan yang terjadi di pasar spot diharapkan tidak terlalu besar.

Baca Juga: Prabowo Usul Formula Baru Untuk Tekan Biaya Haji di tengah Konflik Timur Tengah

“Ekspektasinya transaksi juga lebih terdistribusi dan kurs lebih stabil dan kurs forward bisa terjangkar,” ujar David kepada Kontan, Senin (28/9/2026).

Menurut David, pemanfaatan instrumen non-spot memberikan ruang bagi BI untuk menjaga stabilitas nilai tukar tanpa harus mengandalkan intervensi langsung dalam jumlah besar di pasar spot.

Strategi tersebut juga berpotensi membantu mengelola tekanan terhadap cadangan devisa. Di sisi lain, stabilitas pasar forward dapat menjadi salah satu faktor yang membantu membentuk ekspektasi pelaku pasar terhadap arah pergerakan rupiah.

Meski demikian, David menekankan bahwa perubahan strategi intervensi BI tidak secara otomatis akan membuat rupiah menguat. Pergerakan rupiah masih dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal, terutama dinamika pasar keuangan global dan sentimen investor terhadap aset negara berkembang.

“Masih tergantung kondisi eksternal juga,” katanya.

Rupiah Mendekati Rp18.000 per Dolar AS

Tekanan terhadap rupiah masih terlihat pada perdagangan Senin (28/9/2026). Rupiah di pasar spot ditutup pada level Rp17.978 per dolar AS.

Baca Juga: Koalisi Kritik Perlindungan Pekerja dalam Draf RUU Ketenagakerjaan, Ini Catatannya

Posisi tersebut menunjukkan rupiah melemah 0,42% dibandingkan dengan penutupan perdagangan Jumat (25/9/2026) di level Rp17.903 per dolar AS.

Dengan posisi rupiah yang kembali mendekati level Rp18.000 per dolar AS, perkembangan kondisi eksternal akan menjadi salah satu faktor yang menentukan arah nilai tukar dalam perdagangan berikutnya.

David memperkirakan rupiah masih memiliki ruang untuk menguat apabila tekanan eksternal mulai mereda. Dalam kondisi tersebut, rupiah berpeluang bergerak menuju level Rp17.500 per dolar AS.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News