BI Menilai Insentif KLM Efektif Percepat Transmisi Penurunan Suku Bunga Kredit



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bank Indonesia (BI) menilai Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) semakin efektif dalam mempercepat transmisi penurunan suku bunga kebijakan ke suku bunga perbankan, khususnya suku bunga kredit.

BI mencatat, hingga minggu pertama Januari 2026, total insentif KLM telah mencapai Rp397,9 triliun.

Aida S. Budiman, Deputi Gubernur BI menjelaskan, KLM saat ini bekerja melalui dua jalur utama. Pertama, jalur penyaluran kredit (lending channel) yang berkaitan dengan kuantitas kredit.


Kedua, jalur suku bunga (interest rate channel) yang ditujukan untuk mengakselerasi transmisi seluruh kebijakan moneter BI, termasuk penurunan BI-Rate, ke pasar keuangan dan perbankan.

Baca Juga: Rupiah Jatuh Lebih Dalam Dibanding Kawasan, BI Klaim Ekonomi Indonesia Masih Aman

Seiring dengan penurunan BI-Rate sebesar 150 basis poin (bps), transmisi ke suku bunga perbankan terus menunjukkan perbaikan. Hingga Desember 2025, suku bunga deposito perbankan tercatat turun 56 bps. Sementara itu, suku bunga kredit perbankan turun 39 bps, dari 9,20% pada awal 2025 menjadi 8,81% pada Desember 2025.

"Penurunan suku bunga kredit tersebut semakin cepat dibandingkan periode sebelumnya. Pada bulan sebelumnya, suku bunga kredit baru turun 24 bps, sedangkan pada Desember 2025 penurunannya bertambah menjadi 39 bps atau lebih dalam 15 bps. Dengan penurunan paling signifikan terjadi pada suku bunga kredit baru," jelas Aida saat konferensi pers Rapat Dewan Gubernur BI, Rabu (21/1).

Pada akhir tahun 2025 kredit perbankan tumbuh sebesar 9,69% secara tahunan (year on year/yoy), masih berada dalam kisaran prakiraan BI sebesar 8%–11% (yoy).

Ke depan, Aida memprakirakan pertumbuhan kredit pada 2026 akan berada pada kisaran 8%–12%. Namun demikian, masih terdapat sejumlah pekerjaan rumah yang perlu terus didorong agar transmisi kebijakan moneter berjalan lebih optimal.

Salah satunya adalah penurunan porsi suku bunga khusus (special rate) yang saat ini masih cukup besar, yakni sekitar 26%–27% dari total Dana Pihak Ketiga (DPK). Selain itu, BI juga mendorong penguatan penyaluran kredit secara sektoral agar fasilitas pinjaman yang belum digunakan (undisbursed loan) dapat terus ditekan.

Per Desember 2025, nilai undisbursed loan tercatat masih mencapai Rp2.439,2 triliun atau sekitar 22,12% dari total plafon kredit yang tersedia.

"Optimalisasi penyaluran kredit ke sektor-sektor produktif menjadi kunci untuk memperkuat efektivitas kebijakan moneter dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan," tandasnya.

Baca Juga: Wamenhaj Sebut Biaya Konsumsi Jemaah Haji di Arab Saudi Tahun 2026 Turun

Selanjutnya: Perry Warjiyo Pastikan Proses Pencalonan Deputi Gubernur BI Profesional

Menarik Dibaca: Hasil Indonesia Masters 2026: 3 Ganda Campuran ke 16 Besar, Segel 1 Tiket 8 Besar

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News