BI: Minggu Pertama Januari 2026, Insentif KLM Capai Rp397,9 Triliun



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bank Indonesia (BI) terus memperkuat bauran kebijakan moneter dan makroprudensial guna mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Salah satu langkah utama yang ditempuh adalah penguatan Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) serta percepatan digitalisasi sistem pembayaran. Hingga minggu pertama Januari 2026, total insentif KLM telah mencapai Rp397,9 triliun.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan, penguatan KLM yang mulai berlaku pada 16 Desember 2025 diarahkan untuk mempercepat penurunan suku bunga kredit atau pembiayaan perbankan.


“Kebijakan ini dilakukan melalui peningkatan besaran insentif bagi bank yang lebih cepat menurunkan suku bunga kredit baru sejalan dengan penurunan suku bunga kebijakan BI,” ungkap Perry saat konferensi pers Rapat Dewan Gubernur BI, Rabu (21/1/2026).

Baca Juga: Transaksi Pembayaran Digital Melonjak 39,21% pada Triwulan IV 2025

Insentif tersebut disalurkan kepada berbagai kelompok bank, dengan rincian bank BUMN sebesar Rp182,9 triliun, bank umum swasta nasional (BUSN) Rp174,7 triliun, bank pembangunan daerah (BPD) Rp33,1 triliun, serta kantor cabang bank asing (KCBA) Rp7,2 triliun.

Dari sisi sektoral, insentif KLM difokuskan pada sektor-sektor prioritas, antara lain pertanian, industri dan hilirisasi, jasa termasuk ekonomi kreatif, konstruksi, real estat dan perumahan, serta sektor UMKM, koperasi, inklusi, dan pembiayaan berkelanjutan.

Selain penguatan KLM, BI juga terus mendorong efektivitas transmisi pelonggaran kebijakan moneter.

Perry menekankan, pelonggaran moneter yang telah ditempuh BI, termasuk penurunan BI-Rate dan penempatan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) pemerintah di perbankan, perlu diikuti dengan penurunan suku bunga perbankan yang lebih cepat.

Sepanjang 2025, BI telah menurunkan BI-Rate sebesar 125 basis poin (bps) dan melakukan ekspansi likuiditas moneter. Dampaknya, suku bunga pasar uang overnight INDONIA tercatat turun 234 bps sejak awal 2025 menjadi 3,69% per 20 Januari 2026.

Sementara itu, suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk tenor 6, 9, dan 12 bulan masing-masing turun 254 bps, 254 bps, dan 258 bps sejak awal 2025, menjadi 4,62%, 4,66%, dan 4,69% pada 15 Januari 2026.

Baca Juga: Kredit Sindikasi Indonesia Turun 11% pada 2025, Simak Prospeknya untuk 2026

Di pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 2 tahun dan 10 tahun masing-masing tercatat sebesar 5,06% dan 6,31% per 20 Januari 2026.

Transmisi penurunan suku bunga kebijakan BI ke suku bunga perbankan juga terus berlangsung. Suku bunga deposito 1 bulan turun 56 bps dari 4,81% pada awal 2025 menjadi 4,25% pada Desember 2025, meskipun BI menilai masih diperlukan upaya lanjutan untuk menekan pemberian suku bunga khusus (special rate) kepada deposan besar.

Sejalan dengan penurunan suku bunga dana, suku bunga kredit perbankan mulai menurun sebesar 39 bps, dari 9,20% pada awal 2025 menjadi 8,81% pada Desember 2025.

“Ke depan, penurunan suku bunga dana dan kredit perbankan masih perlu terus ditingkatkan agar dapat mendorong pertumbuhan kredit yang lebih tinggi dan menopang pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan,” imbuhnya.

Selanjutnya: 16 Makanan yang Tidak Bagus untuk Kesehatan Jantung

Menarik Dibaca: 16 Makanan yang Tidak Bagus untuk Kesehatan Jantung

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News