BI Naikkan Suku Bunga Jadi 5,25%, Analis Soroti Stabilitas Rupiah



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bank Indonesia (BI) memutuskan menaikkan suku bunga acuannya sebesar 50 basis poin (bps) menjadi 5,25%, melampaui ekspektasi pasar. Langkah ini sekaligus memberikan sinyal kebijakan moneter yang lebih ketat atau higher-for-longer guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan memperkuat kredibilitas kebijakan moneter nasional.

Keputusan agresif tersebut diambil di tengah tekanan berat terhadap rupiah. Secara month to date (MTD), rupiah tercatat telah terdepresiasi sekitar 2,2% mendekati level Rp 17.700 per dolar Amerika Serikat (AS).

Pelemahan rupiah dipicu oleh berbagai faktor eksternal dan domestik, mulai dari eskalasi tensi geopolitik antara AS dan Iran, kekhawatiran terhadap pelebaran defisit fiskal dan transaksi berjalan, hingga ketidakpastian global yang masih tinggi.


Selain itu, permintaan valuta asing musiman untuk kebutuhan repatriasi dividen serta periode Haji dan Idul Adha turut menambah tekanan terhadap mata uang domestik.

Secara year to date (YTD), nilai tukar rupiah bahkan telah melemah sekitar 6,2%, menjadikannya salah satu mata uang dengan performa terburuk di kawasan Asia. Di sisi lain, intervensi BI di pasar valas juga telah mengurangi cadangan devisa sekitar US$ 10,3 miliar di tengah semakin terbatasnya buffer eksternal Indonesia.

Jessica Tasijawa, Analis Mirae Asset Sekuritas menilai kebijakan pengetatan agresif BI terutama bertujuan memulihkan stabilitas rupiah sekaligus meningkatkan daya tarik aliran modal asing masuk ke pasar keuangan domestik.

Baca Juga: Ekspor Komoditas Hadapi Kontrol Terpusat, Bagaimana Dampaknya ke Emiten?

Menurutnya, pasar Surat Berharga Negara (SBN) masih mengalami arus keluar modal atau outflow sekitar Rp 11,1 triliun secara YTD. Sementara itu, instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) justru mampu menarik aliran dana masuk atau inflow sebesar Rp 76,2 triliun seiring kenaikan yield yang cukup tajam.

Kenaikan suku bunga acuan juga dipandang penting untuk meredam potensi peningkatan inflasi akibat lonjakan harga komoditas global. Harga minyak dunia tercatat naik sekitar 78,4% secara year on year (YoY) menjadi US$ 109,7 per barel.

Kondisi tersebut dinilai dapat meningkatkan risiko pass-through inflation terhadap harga domestik sekaligus menambah tekanan terhadap stabilitas fiskal pemerintah.

Di tengah kondisi tersebut, BI menegaskan akan terus mengoptimalkan seluruh bauran kebijakannya guna menjaga stabilitas rupiah tanpa mengorbankan momentum pertumbuhan ekonomi domestik.

Langkah tersebut dilakukan melalui penjagaan likuiditas yang ample, peningkatan insentif likuiditas makroprudensial, perluasan intermediasi perbankan, hingga penguatan koordinasi kebijakan dengan pemerintah.

“Secara keseluruhan, kami memandang keputusan BI sebagai respons yang tepat dan timely di tengah tekanan eksternal yang persisten dan volatilitas rupiah yang meningkat, sementara kami tetap memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga acuannya di level 5,25% hingga akhir 2026 setelah langkah frontloaded hike yang agresif tersebut,” ujar Jessica dalam risetnya Kamis (21/5/2026).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News