BI Optimistis Kredit Perbankan Tetap Tumbuh Meski Yield SRBI Tinggi dan BI Rate Naik



KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Bank Indonesia (BI) optimistis tingginya imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) tidak akan mengganggu likuiditas perbankan untuk penyaluran kredit pembiayaan ke sektor riil.

Untuk diketahui, imbal hasil atau yield SRBI saat ini sudah naik ke kisaran 6,45% untuk tenor 12 bulan dan mencapai 6,75% untuk tenor tertentu. Kebijakan penyesuaian ini dilakukan oleh Bank Indonesia untuk menarik arus modal asing dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Seiring dengan itu BI juga telah menaikkan suku bunga acuan alias BI Rate ke level 5,25%.

Direktur Departemen Kebijakan Makroprudensial Bank Indonesia, Dhaha P. Kuantan mengatakan, meskipun kenaikan BI Rate dan yield SRBI berpotensi menarik dana perbankan masuk ke instrumen SRBI, bank diperkirakan tetap akan menjaga penyaluran kredit karena adanya insentif Kebijakan Likuiditas Makroprudensial (KLM).


Menurut Dhaha, hingga saat ini kondisi likuiditas perbankan masih memadai. Hal itu tercermin dari pertumbuhan kredit yang masih mencapai 9,98% secara tahunan (year on year/yoy), sementara dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 11,4% yoy.

Baca Juga: KB Bank Perluas Layanan Nasabah Prioritas

“Dengan figur yang seperti itu saya masih melihat target pertumbuhan kredit 8%-12% itu masih visible untuk bisa tercapai,” ujar Dhaha dalam Pelatihan Wartawan di Makassar, Jumat (22/5/2026).

Dhaha mengatakan, BI akan terus mencermati perkembangan ke depan, termasuk kemungkinan revisi Rencana Bisnis Bank (RBB) apabila diperlukan. Namun hingga saat ini, BI masih meyakini target pertumbuhan kredit tahun 2026 tetap realistis dicapai.

Terkait meningkatnya daya tarik SRBI setelah BI menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin, Dhaha menilai bank tidak akan langsung mengalihkan likuiditasnya dari kredit ke SRBI.

Sebab, apabila bank terlalu agresif menempatkan dana di SRBI hingga pertumbuhan kredit melambat, maka bank berpotensi kehilangan insentif KLM yang diberikan BI.

“Kalau mereka switch signifikan ke SRBI, sementara kreditnya turun, berarti mereka tidak mendapatkan insentif KLM. Itu jadi trade off bagi bank,” katanya.

Ia menjelaskan, KLM dirancang BI untuk menjaga keseimbangan antara penempatan dana di instrumen moneter dan penyaluran kredit ke sektor riil.

Selain itu, BI juga mempertimbangkan sisi interest rate channel. Menurut Dhaha, apabila bank menaikkan suku bunga kredit terlalu tinggi mengikuti kenaikan yield SRBI dan biaya dana (cost of fund), maka insentif KLM juga dapat dikurangi.

Baca Juga: DHE SDA Wajib Masuk Himbara, BTN: Tambah Dana dan Likuiditas

“Kalau kenaikan suku bunga kredit terlalu tinggi dan deviasinya jauh dari BI Rate, tentunya insentifnya akan berkurang atau bahkan tidak mendapatkan insentif,” ujarnya.

Karena itu, BI berharap perbankan tetap menjaga kenaikan suku bunga kredit dalam level yang manageable agar permintaan pembiayaan tetap terjaga dan pertumbuhan kredit tidak terganggu.

Dhaha optimistis kombinasi kebijakan KLM, baik melalui financing channel maupun interest rate channel, akan membuat perbankan tetap menyalurkan kredit meskipun SRBI menawarkan imbal hasil yang menarik.

“Harapannya bank tetap balancing antara SRBI dan kredit karena ada insentif yang besar dari KLM,” imbuhnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News