BI Perketat Pembelian Dolar AS Saat Rupiah Tertekan, Ini Kata Mirae Asset



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank Indonesia (BI) memperketat aturan pembelian dolar Amerika Serikat (AS) di dalam negeri, sebagai bagian dari langkah menjaga stabilitas rupiah di tengah tekanan eksternal dan tingginya permintaan valuta asing (valas).

Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Jessica Tasijawa mengatakan, kebijakan tersebut merupakan bagian dari bauran kebijakan BI untuk meredam tekanan terhadap rupiah yang sempat melemah hingga sekitar Rp 17.425 per dolar AS di pasar spot maupun kurs JISDOR.

Dalam risetnya, Jessica menjelaskan BI menurunkan batas pembelian dolar AS tanpa underlying dari sebelumnya US$ 100.000 menjadi US$ 50.000 per individu per bulan dan selanjutnya akan dipangkas lagi menjadi US$ 25.000.


“Kebijakan ini bertujuan menekan permintaan spekulatif, menjaga likuiditas valas domestik, sekaligus melengkapi instrumen stabilisasi lain seperti SRBI, pembelian SBN, dan intervensi pasar,” tulis Jessica dalam riset Mirae Asset Sekuritas Indonesia Fixed Income Daily Update, Rabu (7/5/2026).

Baca Juga: KPK Buka Suara: Ini Alasan LHKPN Presiden Prabowo Belum Terlihat Publik

Hingga saat ini, BI juga terus melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder yang secara year to date telah mencapai Rp 123,1 triliun.

Di sisi lain, BI juga melakukan lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dengan total penyerapan sebesar Rp 2,5 triliun, terendah sejak Maret 2026. 

Meski begitu, yield SRBI naik di seluruh tenor ke kisaran 6,1%–6,5% guna meningkatkan daya tarik instrumen jangka pendek.

Jessica melihat, kondisi tersebut mencerminkan strategi mirip operation twist yang mendorong flattening kurva imbal hasil sekaligus menjaga minat investor asing masuk ke pasar domestik. 

Tercatat, aliran dana asing masuk ke SRBI mencapai Rp 8,8 triliun secara month to date dengan porsi kepemilikan asing di atas 12,7%.

Namun demikian, lemahnya permintaan SRBI dan arus keluar dari sektor perbankan sebesar Rp 157,3 triliun menunjukkan pelaku pasar masih cenderung berhati-hati. 

Baca Juga: PPIH Maksimalkan Visitasi dan Edukasi Agar Jemaah Haji Bisa Beribadah Secara Mandiri

“Ini menunjukkan kehati-hatian pasar serta peran BI sebagai penyangga utama,” ujarnya.

Jessica juga mencermati pergerakan yield SBN yang menunjukkan flattening kurva. 

Yield SBN tenor 10 tahun turun ke level 6,76%, sementara tenor 2 tahun justru naik ke 6,46%, sehingga spread keduanya menyempit menjadi sekitar 20 basis poin (bps), level terendah saat ini.

Kondisi tersebut terjadi seiring penguatan rupiah ke kisaran Rp 17.389 per dolar AS yang didukung pelemahan indeks dolar AS (DXY) ke sekitar level 98. 

Di pasar global, yield US Treasury juga turun dengan tenor 10 tahun di level 4,35% dan tenor 2 tahun sebesar 3,87%.

Baca Juga: Buka-bukaan Pemerintah Soal Kontrak dan Gaji Manajer Kopdes Merah Putih

Menurut Jessica, ini menjaga spread obligasi pemerintah Indonesia dan US Treasury tetap lebar, yakni di kisaran 240-250 bps.

"Dan dalam kondisi ini kami tetap prefer tenor jangka pendek dengan tetap waspada terhadap risiko nilai tukar di tengah ketidakpastian global," pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News