KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bank Indonesia (BI) menegaskan komitmennya untuk terus menjaga stabilitas ekonomi di tengah tingginya ketidakpastian global. Stabilitas nilai tukar rupiah tetap menjadi fokus utama melalui optimalisasi bauran kebijakan moneter yang tidak hanya bertumpu pada suku bunga acuan. Mengutip data Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup melemah 0,41% ke level Rp 18.083 per dolar AS pada Selasa (28/7/2026). Direktur Eksekutif Senior sekaligus Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea mengatakan, menjaga stabilitas merupakan prasyarat utama untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
“BI terus berkomitmen menjaga stabilitas di tengah ketidakpastian global yang tinggi, stabilisasi nilai tukar rupiah terus diperkuat sehingga konsisten mendukung pencapaian sasaran inflasi dan mendorong kegiatan ekonomi," ujar Erwin dalam keterangan resmi, Rabu (29/7/2026).
Baca Juga: Bursa Calon Gubernur BI: Ada Nama Muliaman Hadad, Destry Damayanti & Aida S. Budiman Erwin menjelaskan, BI terus meningkatkan optimalisasi bauran kebijakan moneter dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Menurutnya, kebijakan tersebut tidak hanya mengandalkan suku bunga acuan, tetapi juga diperkuat melalui berbagai instrumen moneter. Berbagai instrumen tersebut meliputi
triple intervention di pasar valuta asing melalui transaksi spot,
non-deliverable forward (NDF), dan
domestic non-deliverable forward (DNDF). Selain itu, BI juga mengoptimalkan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang didukung fasilitas insentif swap dan DNDF hedging guna menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus mendorong masuknya aliran modal asing. Di sisi likuiditas, BI juga memperkuat strategi untuk menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang dan perbankan. Erwin menyebut, posisi SRBI saat ini berada dalam tren yang lebih terkendali. Ke depan, penerbitan SRBI akan terus diarahkan agar selaras dengan kebutuhan pengelolaan likuiditas sekaligus mendukung masuknya aliran modal asing untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah.
Baca Juga: Gempa M 7,1 Guncang Jepang, Ini Nasib WNI Menurut Penjelasan Resmi KBRI Tokyo Selain menjaga stabilitas, BI juga terus mengoptimalkan berbagai instrumen kebijakan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Salah satunya melalui penguatan implementasi Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) guna mendorong pembiayaan kepada sektor-sektor prioritas. Erwin mengatakan, BI juga akan memperkuat mekanisme redistribusi likuiditas di sektor keuangan agar transmisi pembiayaan menjadi semakin efektif. Di samping itu, digitalisasi sistem pembayaran akan terus dipercepat sebagai bagian dari upaya mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. “Kebijakan digitalisasi sistem pembayaran juga terus diakselerasi sehingga makin mendorong pertumbuhan ekonomi,” tandasnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News