BI Perluas Kebijakan MDR QRIS 0% Mulai Oktober 2026, Ini Respons LinkAja



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank Indonesia (BI) memperluas kebijakan Merchant Discount Rate (MDR) Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) sebesar 0% untuk transaksi hingga Rp 100 ribu di seluruh kategori merchant mulai 1 Oktober 2026. Sebelumnya, merchant dikenakan biaya 0,7% dan biaya di merchant usaha mikro tetap gratis untuk transaksi hingga Rp 500.000.

Mengenai hal itu, platform dompet digital PT Fintek Karya Nusantara atau LinkAja mendukung kebijakan perluasan MDR QRIS tersebut. Chief Executive Officer LinkAja Yogi Rizkian Bahar mengatakan dengan adanya kebijakan itu diharapkan pengguna yang bertransaksi menggunakan QRIS bisa meningkat. 

"Akhirnya, berubah dari cash society menjadi cashless society. Namun, tentu ada rambu-rambu atau parameter, kami juga perlu tumbuh. Jadi, kami mendukung programnya pemerintah dan tentu industrinya juga harus didukung," ungkapnya saat media gathering di kawasan Jakarta Pusat, Rabu (19/8/2026).


Dari sisi industri mengenai kebijakan itu, Yogi menuturkan kemungkinan orang akan melihat bahwa fee yang didapatkan dompet digital dari MDR tersebut akan hilang nantinya, yang tadinya sebesar 0,7% menjadi 0%. Namun, secara rinci, dia bilang sebenarnya platform akan mendapatkan dampak positif lain dari kebijakan MDR itu.

Baca Juga: Transaksi Pembayaran Digital Melesat 36,88% pada Kuartal II-2026, QRIS Tumbuh 100%

"Dapat revenue-nya dari mana? Jadi, ada efek lainnya ketika MDR 0%, yakni orang-orang akan top up lebih banyak. Dengan demikian, orang akan menggunakan e-wallet untuk bertransaksi lebih banyak. Dengan demikian, akan ada efek ekornya," tuturnya.

Selain itu, Yogi mengatakan berbagai merchant, seperti toko kelontong hingga tukang ketoprak merasa mereka tidak kena potongan ketika menerima uang dari pelanggan yang menggunakan QRIS. Dengan demikian, dia menilai akan makin banyak merchant yang tadinya tak memiliki QRIS kemudian memutuskan untuk membuat QRIS.

"Artinya, dari sisi merchant akan berlomba-lomba untuk membuat kris. Tadinya cash, lalu tahu enggak ada potongan, mereka akan membuat QRIS dan tingga tempel. Mereka juga akan merasa transaksi yang didapatkan gede. Dengan demikian, jumlah merchant-nya akan naik, lalu dari sisi volume transaksinya akan naik," katanya.

Baca Juga: QRIS Tap Diperluas, Pembayaran Transportasi Publik Kian Terintegrasi

Yogi menerangkan pihaknya melihat bahwa kebijakan perluasan tersebut juga menjadi peluang bagi dompet digital. Ditambah, pertumbuhan transaksi QRIS di Indonesia terus bertumbuh. 

"Jadi, sekarang growth-nya QRIS itu gede banget. Transaksi kami juga besar banget, kalau users merchant nomor satu di transaksi QRIS kami. Jadi, memang revenue generator-nya itu juga dari QRIS," ucap Yogi.

Terkait kinerja, Yogi menerangkan LinkAja mencatat pertumbuhan EBITDA lebih dari 200% secara Year on Year (YoY) pada Semester I-2026. Pada periode yang sama, dia menyampaikan laba bersih juga tumbuh lebih dari 100% secara YoY pada Semester I-2026. 

Dari sisi operasional, LinkAja mencatatkan pertumbuhan Monthly Active Users (MAU) sebesar 5% secara YoY pada Semester I 2026. Dia menyebut pertumbuhan itu mencerminkan keberlanjutan engagement pengguna, seiring dengan pengembangan layanan dan perluasan ekosistem LinkAja. 

Baca Juga: BI Catat Nilai Transaksi QRIS Tap Capai Rp 6,29 Miliar hingga Mei 2026

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TAG: