BI Perpanjang Insentif Hedging Swap 10% Demi Menarik Arus Modal Asing



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank Indonesia (BI) melanjutkan insentif penurunan tingkat swap lindung nilai (hedging swap) sebesar 10% bagi investor asing. Kebijakan tersebut menjadi bagian dari bauran kebijakan moneter untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus menarik aliran modal asing ke pasar keuangan domestik.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan insentif tersebut tetap diberikan guna meningkatkan daya tarik investasi portofolio asing di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.

“Bank Indonesia melanjutkan pemberian insentif penurunan tingkat swap lindung nilai (hedging swap) bagi investor asing sebesar 10% guna semakin meningkatkan daya tarik masuknya investor asing serta mengkompensasi kewajiban yang selama ini ditanggung investor,” ujar Perry dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Kamis (18/6).


Baca Juga: BI: Volume Transaksi QRIS Melonjak 95%, Pembayaran Digital Tembus 5,22 Miliar

Menurut Perry, kebijakan ini merupakan bagian dari langkah BI memperkuat efektivitas implementasi kebijakan moneter untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan memastikan inflasi tetap berada dalam sasaran 2,5% plus minus 1% pada 2026 dan 2027.

Selain melanjutkan insentif hedging, BI juga meningkatkan intensitas intervensi di pasar valuta asing melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri serta transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik.

Di sisi lain, BI juga menjaga daya tarik instrumen keuangan domestik dengan mempertahankan struktur suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) pada tenor 6 bulan, 9 bulan, dan 12 bulan agar tetap sejalan dengan kenaikan BI Rate.

Langkah tersebut diharapkan mampu menjaga arus masuk investasi portofolio asing ke pasar keuangan Indonesia di tengah tekanan global yang meningkat akibat tingginya suku bunga global dan ketegangan geopolitik.

Tak hanya itu, BI juga memastikan likuiditas pasar uang dan perbankan tetap memadai. Bank sentral menargetkan pertumbuhan uang primer tetap tumbuh dua digit atau di atas 10% sejalan dengan kebijakan ekspansi moneter.

Untuk mendukung kecukupan likuiditas perbankan, BI membuka kembali window lelang instrumen repurchase agreement (repo) untuk tenor 3 bulan, 6 bulan, 9 bulan, dan 12 bulan.

Perry menegaskan, kombinasi kebijakan tersebut diharapkan mampu menjaga stabilitas rupiah, menarik aliran modal asing, serta mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan di tengah dinamika ekonomi global.

Baca Juga: Usai Laba Cetak Rekor, Amar Bank Bagi Dividen Rp 110 Miliar dengan Potensi Yield 3%

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News