BI Pertahankan Suku Bunga, Begini Prospek Pergerakan Rupiah



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan BI rate di level 4,75% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Februari 2026. Seiring dengan keputusan itu, BI terus melakukan upaya stabilisasi nilai tukar rupiah.

Mengutip Bloomberg, Kamis (19/2/2026), rupiah di pasar spot melemah 0,06% secara harian ke Rp 16.894 per dolar AS. Berdasarkan Jisdor Bank Indonesia, rupiah melemah 0,24% secara harian ke Rp 16.925 per dolar AS.

Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual melihat pergerakan rupiah relatif stabil setelah BI mempertahankan suku bunga. Hal ini karena sudah dalam proyeksi BI menahan BI rate. Ke depan, sejumlah faktor yang mempengaruhi pergerakan rupiah antara lain tren proyeksi Fed rate, neraca dagang, dan harga komoditas. 


“Isu-isu domestik seperti isu MSCI dan rating agency masih mewarnai arah rupiah,” ucap David kepada Kontan, Kamis (19/2/2026). 

Baca Juga: Rupiah Melemah ke Rp 16.894, Pasar Cermati Sikap Pemerintah dan Sentimen Global

Nanang Wahyudin, Research & Education Coordinator Valbury Asia Futures mengatakan, pergerakan rupiah saat ini berada dalam posisi yang cukup menantang mengingat dinamika global yang agresif. Dampak kebijakan BI terhadap rupiah dengan penerapan atas suku bunga Bank Indonesia (BI rate) adalah instrumen utama untuk menjaga daya tarik aset keuangan domestik.

“Langkah BI menahan suku bunga diambil untuk menjaga stabilitas nilai tukar ditengah ketidakpastian global,” ucap Nanang. 

Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi mengatakan, pergerakan rupiah ke depan ditentukan oleh kombinasi sentimen portofolio dan kredibilitas kebijakan. Risiko utama datang dari persepsi investor atas kesehatan fiskal dan independensi bank sentral di bawah agenda pertumbuhan tinggi.

Faktor eksternal ikut memperkeras volatilitas melalui perubahan selera risiko global, arah suku bunga AS, dan pergeseran arus dana ke aset aman. Dari sisi kebijakan, pasar akan menilai efektivitas strategi BI yang meningkatkan intensitas intervensi di Non-Deliverable Forward (NDF) offshore, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) onshore, spot FX, dan pasar SBN. 

“Rupiah akan mendapat ruang stabilisasi saat kebijakan tampil konsisten, transparansi pasar membaik, dan tekanan outflow mereda,” ucap Syafruddin. 

Selain itu, Nanang memberi perhatian khusus soal tensi geopolitik. Konflik di Timur Tengah (AS-Iran) mendorong kenaikan harga minyak global. Karena Indonesia adalah importir minyak, kenaikan harga minyak akan memperlebar defisit transaksi berjalan dan membebani rupiah.

Ia juga mengingatkan untuk mencermati aliran modal asing (inflow/ outflow). Baik ketika investor asing tetap memegang Surat Berharga Negara (SBN) atau melakukan aksi jual (sell-off). Sebab hal tersebut sangat mempengaruhi pasokan dollar di pasar domestik.

“Harga batubara dan CPO yang stabil cenderung membantu menjaga cadangan devisa tetap kuat. Karena itu, pemerintah berupaya menjaga kinerja ekspor komoditas,” jelas Nanang. 

Baca Juga: Rupiah Tertekan Meski BI Tahan Suku Bunga di 4,75%, Cek Proyeksi Jumat (20/2)

Syafruddin memproyeksikan rupiah rupiah pada semester I-2026 kemungkinan bergerak dalam rentang sekitar Rp 16.600 – Rp 16.900 per dolar AS, dengan arah akhir sangat dipengaruhi oleh arus modal, disiplin fiskal, dan konsistensi stabilisasi BI. 

Sementara itu, Nanang memproyeksikan rupiah di semester I 2026 dalam tiga skenario. Skenario optimis bila inflasi Amerika terus melandai dan Fed kembali memangkas suku bunga dengan diimbangi ketegangan geopolitik mereda. Ini bisa membuat rupiah berpotensi kembali ke Rp 16.500 – Rp 16.650 per dolar AS. 

Kemudian, kondisi moderat, jika BI tetap menjaga bunga di level saat ini dan ekonomi domestik tumbuh stabil di atas 5%. Rupiah diproyeksi bergerak dalam rentang Rp 16.650 – Rp 16.850 per dolar AS.

Selanjutnya, dengan kondisi pesimistis terjadi jika ada eskalasi perang besar di Timur Tengah atau Fed kembali menaikkan suku bunga secara tak terduga. Ini menjadi ancaman bagi rupiah yang bisa berada di Rp 16.950 – Rp 17.100 per dolar AS. 

Adapun, David memproyeksikan rupiah pada semester I 2026 masih akan stabil dikisaran Rp 16.800 – Rp 17.000 per dolar AS.

Selanjutnya: Pemerintah Serap Utang Baru Rp 152 Triliun dari Lelang SUN Sampai Februari 2026

Menarik Dibaca: 11 Tips agar Tidak Gampang Lapar saat Puasa, Coba Terapkan!

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News