KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bank Indonesia (BI) memperkirakan transaksi berjalan Indonesia pada 2026 mencatat defisit dalam kisaran 1,6%-2,4% dari produk domestik bruto (PDB). Proyeksi ini sejalan dengan upaya bank sentral menjaga ketahanan eksternal di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi. Gubernur BI Destry Damayanti mengatakan, ketahanan eksternal Indonesia tetap terjaga, ditopang oleh kinerja perdagangan yang positif dan posisi cadangan devisa yang memadai.
Neraca perdagangan Indonesia pada Agustus 2026 mencatat surplus sebesar US$ 3,55 miliar, meningkat dibandingkan surplus pada bulan sebelumnya sebesar US$ 120 juta.
Baca Juga: BI Catat Transaksi Modal dan Finansial Surplus US$ 12 Miliar pada Kuartal II 2026 Sementara itu, aliran investasi portofolio asing pada triwulan III 2026 mencatat arus keluar bersih atau
net outflows sebesar US$ 80 juta. Perkembangan ini terutama dipengaruhi oleh arus keluar dari pasar saham seiring tingginya ketidakpastian di pasar keuangan global. “Terutama disebabkan
outflows pada saham sejalan ketidakpastian pasar keuangan global yang tinggi,” tutur Destry dalam konferensi pers, Rabu (21/10/2026). Tekanan arus keluar investasi portofolio asing dari pasar saham berlanjut pada Oktober 2026. Namun, instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN) masih mencatat arus masuk. Dengan perkembangan tersebut, investasi portofolio asing pada triwulan IV 2026 hingga 19 Oktober 2026 mencatat arus masuk bersih atau
net inflows sebesar US$ 660 juta.
Baca Juga: BI Perpanjang Relaksasi Kartu Kredit Hingga Akhir 2026, Apa Itu? Dari sisi cadangan devisa, posisi Indonesia pada akhir September 2026 tercatat sebesar US$ 146,3 miliar. Jumlah tersebut setara dengan pembiayaan 5,3 bulan impor atau 5,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Posisi cadangan devisa tersebut juga berada di atas standar kecukupan internasional, yakni sekitar tiga bulan impor. Ke depan, BI memperkirakan ketahanan eksternal Indonesia tetap kuat dengan transaksi berjalan pada 2026 diprakirakan mengalami defisit dalam kisaran 1,6%-2,4% dari PDB. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News