BI Proyeksi Defisit Neraca Transaksi Berjalan Meningkat, 0,5%-1,3% dari PDB 2026



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bank Indonesia (BI) memperkirakan, defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) Indonesia pada 2026 meningkat di tengah ketidakpastian ekonomi global masih tinggi.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memperkirakan, CAD tahun ini berada dalam kisaran 0,5% hingga 1,3% terhadap produk domestik bruto (PDB). Perkiraan tersebut meningkat dari CAD Indonesia pada keseluruhan tahun 2025 tercatat sebesar US$ 1,5 miliar dolar AS atau setara dengan 0,1% dari PDB.

"Ke depan, Bank Indonesia memperkirakan kinerja transaksi berjalan 2026 tetap sehat dalam kisaran defisit 1,3% sampai dengan 0,5% dari PDB," ujar Perry dalam konferensi pers, Rabu (22/7/2026).


Baca Juga: Sudaryono Janji Benahi Tata Kelola BGN, Dorong Sistem Lebih Transparan

Perry mengatakan, kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) perlu terus diperkuat untuk memitigasi dampak rambatan tingginya ketidakpastian global. Oleh karena itu, BI terus bersinergi dengan pemerintah untuk menjaga ketahanan sektor eksternal.

Dari sisi perdagangan, neraca perdagangan Indonesia secara kumulatif sepanjang Januari hingga Mei 2026 masih membukukan surplus sebesar US$ 4,03 miliar. Namun, pada Mei 2026 neraca perdagangan tercatat mengalami defisit sebesar US$ 1,61 miliar.

Sementara itu, dari sisi transaksi modal dan finansial, Perry menyebut penguatan bauran kebijakan moneter BI yang didukung kebijakan fiskal pemerintah berhasil menjaga daya tarik aset keuangan domestik sehingga mendorong berlanjutnya aliran modal asing.

Pada kuartal II-2026, investasi portofolio asing mencatat arus masuk bersih (net inflows) sebesar US$ 8,5 miliar, terutama ke instrumen Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Arus modal asing tersebut masih berlanjut pada triwulan III-2026. Hingga 20 Juli 2026, investasi portofolio asing terutama melalui SBN mencatat arus masuk bersih sebesar US$ 0,1 miliar.

Baca Juga: Pemerintah Apresiasi BI Tahan Suku Bunga di 5,75%, Bisa Dukung Ekspansi Sektor Riil

Di sisi lain, posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Juni 2026 tetap terjaga di level US$ 145,6 miliar. Nilai tersebut setara dengan pembiayaan 5,5 bulan impor atau 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.

Perry menegaskan, BI bersama pemerintah akan terus memperkuat sinergi kebijakan untuk menjaga ketahanan eksternal perekonomian nasional sekaligus menopang stabilitas nilai tukar rupiah di tengah gejolak ekonomi global.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News