BI Proyeksikan NPI 2026 Tetap Kuat, Defisit Transaksi Berjalan Rendah



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bank Indonesia (BI) memproyeksikan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada 2026 tetap berada dalam kondisi yang baik, meski ketidakpastian global masih tinggi. Ketahanan eksternal tersebut ditopang oleh defisit transaksi berjalan yang diprakirakan tetap rendah.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, pada 2026 defisit transaksi berjalan diperkirakan berada dalam kisaran 0,1% hingga 0,9% terhadap produk domestik bruto (PDB). Angka tersebut mencerminkan kondisi transaksi berjalan yang masih sehat.

“Ke depan, secara keseluruhan NPI pada tahun 2026 tetap baik dengan defisit transaksi berjalan yang rendah,” ujar Perry dalam konferensi pers, Rabu (21/1/2026).


Sementara itu, pada Kuartal IV-2025, BI memprakirakan NPI tetap berdaya tahan dengan transaksi berjalan berada pada kisaran defisit 0,5% hingga surplus 0,3% dari PDB. Kinerja tersebut didukung oleh neraca perdagangan yang masih mencatat surplus.

Baca Juga: Neraca Pembayaran Indonesia Catatkan Defisit US$ 6,4 Miliar Pada Kuartal III 2025

Per November 2025, neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus sebesar US$ 2,7 miliar, terutama ditopang oleh ekspor nonmigas berbasis sumber daya alam, seperti logam mulia dan perhiasan atau permata, nikel dan barang daripadanya, serta bahan bakar mineral.

Dari sisi transaksi modal dan finansial, NPI Kuartal IV-2025 juga didukung oleh aliran modal masuk (net inflows), khususnya pada Desember 2025. Aliran modal tersebut bersumber dari penerbitan global bond, setelah pada Oktober dan November 2025 tercatat relatif rendah seiring masih tingginya ketidakpastian global.

Sejalan dengan itu, posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Desember 2025 meningkat menjadi US$ 156,5 miliar. Jumlah tersebut setara dengan pembiayaan 6,4 bulan impor atau 6,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.

Namun demikian, Perry mengingatkan bahwa meningkatnya ketidakpastian keuangan global masih berpotensi menekan aliran modal asing. Hingga 19 Januari 2026, investasi portofolio mencatat aliran keluar bersih (net outflows) sebesar US$ 1,6 miliar.

“Sehubungan dengan itu, perlu penguatan respons kebijakan guna tetap menjaga ketahanan eksternal perekonomian Indonesia,” tegas Perry.

Baca Juga: Defisit Neraca Pembayaran Indonesia Melebar Jadi US$ 6,7 Miliar Pada Kuartal II 2025

Selanjutnya: Sambangi KPK, Menteri PKP Pastikan Proyek Rusun Subsidi Meikarta Aman

Menarik Dibaca: Biji Nangka Rebus: 4 Manfaat Tak Terduga untuk Kesehatan Optimal

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News