BI Rate Bertahan di Level 5,75%, Begini Prediksi Arah Pasar Saham



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank Indonesia (BI) memutuskan mempertahankan suku bunga acuan (BI rate) di level 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang digelar pada 20–21 Oktober 2026. Keputusan ini memberi sentimen cukup positif bagi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), meski efeknya diperkirakan tidak besar.

Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis Tambolang mengatakan BI rate yang bertahan di 5,75% relatif positif, tetapi belum cukup menjadi katalis rebound IHSG.

Alrich pun memproyeksikan kinerja indeks akan berada di level support 5.200 dan resistance 5.400 dalam jangka pendek hingga menengah.


"Tekanan rupiah, arus dana asing, dan ketidakpastian MSCI masih menjadi faktor dominan," kata Alrich kepada Kontan, Rabu (21/10/2026).

Baca Juga: Koreksi IHSG Jadi Kesempatan Berburu Saham Dividen Jumbo, Yield Bisa Dua Digit

Dari sisi sektoral , saham properti, otomotif, konsumsi, dan perbankan berpotensi diuntungkan dari bertahannya level BI rate. Sebaliknya, saham berfundamental lemah dan berlikuiditas rendah masih rentan tertekan di tengah volatilitas tinggi.

Secara terpisah, Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia (UI) Budi Frensidy mengatakan mengatakan keputusan BI mempertahankan suku bunga 5,75% cukup positif untuk menjaga stabilitas rupiah dan kepercayaan investor. 

Namun, dampaknya terhadap IHSG masih terbatas karena biaya pendanaan tetap tinggi dan pasar masih dibayangi tekanan jual asing serta persoalan MSCI. 

"Peluang rebound tetap ada, tetapi pemulihan berkelanjutan membutuhkan perbaikan kepercayaan pasar," jelas Budi kepada Kontan, Rabu (21/10/2026).

Spread BI rate dan Suku Bunga The Fed

Budi juga menyoroti selisih antara BI rate dan suku bunga The Fed yang saat ini berada di kisaran 175–200 basis poin. Selisih tersebut dinilai masih cukup menarik bagi investor asing.

Namun, aliran dana asing diperkirakan masih akan berfluktuasi. Faktor-faktor yang memengaruhinya meliputi stabilitas rupiah, kondisi global, hingga persoalan tata kelola pasar modal.

"Intinya, keputusan BI membantu menjaga stabilitas, tetapi belum cukup untuk mendorong masuknya dana asing secara besar-besaran. Perbaikan kepercayaan investor tetap menjadi faktor utama pemulihan IHSG," ucap Budi. 

Baca Juga: IHSG Menguat 0,94%, Simak Proyeksi dan Rekomendasi Saham Kamis (22/10)

Sementara itu, Alrich bilang dengan spread sekitar 1,75%–2% berdasarkan kisaran suku bunga The Fed 3,75%–4%, daya tarik aset rupiah relatif terjaga. Namun, arus asing tetap bergantung pada stabilitas rupiah dan kepercayaan investor terhadap pasar Indonesia.

Disisi lain, langkah peningkatan transparansi dan free float dari otoritas dianggap sudah tepat, tetapi pasar membutuhkan implementasi nyata dan konsisten.

"Pemulihan kepercayaan investor global menjadi kunci agar reformasi tersebut tercermin positif pada IHSG. Saat ini, investor sebaiknya tetap selektif dan tidak agresif,' jelas Alrich.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News