KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Keputusan Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,75% dinilai mencerminkan fokus bank sentral dalam menjaga stabilitas makroekonomi di tengah tingginya ketidakpastian global.
Chief Economist PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) Myrdal Gunarto mengatakan kenaikan BI-Rate tersebut terutama ditujukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang masih menghadapi tekanan dari faktor eksternal. Dengan kenaikan terbaru tersebut, BI-Rate telah naik total 100 bps sepanjang 2026. Meski demikian, secara kumulatif kenaikan itu masih lebih rendah dibandingkan pemangkasan suku bunga sebesar 125 bps yang dilakukan BI sepanjang tahun lalu.
Baca Juga: Nilai Simpanan LKM BKD Ponorogo Turun 7,5% per April 2026, Ini Penyebabnya "Kebijakan ini menunjukkan fokus Bank Indonesia yang tetap mengutamakan stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tingginya ketidakpastian global," ujar Myrdal dalam risetnya, Kamis (18/6). Menurutnya, BI juga mewaspadai risiko
imported inflation yang dapat muncul akibat pelemahan nilai tukar dan berdampak pada kenaikan biaya produksi domestik. Selain faktor rupiah, arah kebijakan moneter juga dipengaruhi oleh dinamika likuiditas domestik dan eksternal. Risiko pelebaran defisit transaksi berjalan, meningkatnya kebutuhan devisa untuk impor energi, pembayaran dividen korporasi, hingga pergerakan arus modal global menjadi faktor yang turut diperhitungkan BI. Myrdal menilai langkah kenaikan suku bunga juga menjadi bagian dari strategi untuk menjaga daya tarik aset keuangan domestik di tengah perubahan arah kebijakan moneter global. Di tengah kondisi tersebut, minat investor terhadap instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dinilai masih kuat. Hal itu tercermin dari nilai penyerapan SRBI yang mencapai sekitar Rp 43 triliun dengan tingkat imbal hasil di atas 7%. "Tingginya minat investor pada lelang SRBI menunjukkan instrumen moneter Bank Indonesia masih efektif dalam mendukung stabilitas pasar keuangan domestik," katanya.
Baca Juga: Penjualan Mobil Naik, Premi Asuransi Kendaraan Naik Tipis pada Kuartal I-2026 Menurut Myrdal, kondisi tersebut memberikan ruang bagi BI untuk menjaga stabilitas likuiditas dan nilai tukar apabila volatilitas global kembali meningkat. Ia memperkirakan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor pendek masih akan bertahan di atas level 7% dalam jangka pendek. Sementara itu, yield Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun diproyeksikan bergerak pada kisaran 6,87% hingga 7,41%. Ke depan, ruang kenaikan BI-Rate diperkirakan semakin terbatas dan sangat bergantung pada perkembangan nilai tukar rupiah, inflasi domestik, harga energi global, serta dinamika arus modal internasional. BTN memperkirakan BI berpotensi mempertahankan BI-Rate di level 5,75% hingga akhir tahun apabila tekanan eksternal mulai mereda dan harga minyak dunia tetap terkendali.
Dengan asumsi tersebut, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 diproyeksikan masih mampu mencapai 5,17%, dengan tingkat inflasi sebesar 3,09%. Di sisi perbankan, pertumbuhan kredit diperkirakan akan berlangsung lebih moderat. BTN memperkirakan penyaluran kredit industri perbankan tahun ini tumbuh di bawah 9%. Adapun sektor yang diproyeksikan menjadi motor utama pertumbuhan pembiayaan meliputi ketahanan pangan, transportasi, konstruksi, industri makanan dan minuman, energi, besi dan baja, kelapa sawit, serta properti residensial. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News