KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bank Indonesia (BI) mempertahankan Suku Bunga atau BI-Rate di 5,75% pada bulan Agustus 2026, sesuai dengan ekspektasi konsensus pasar. Kemudian, suku bunga
Deposit Facility dipertahankan di level 4,75%, dan suku bunga
Lending Facility dipertahankan di level 6,50%. Lead Economist Bank Danamon Indonesia Irman Faiz menilai, BI-Rate pada akhir tahun akan berada di level 6,25%. Artinya BI akan meningkatkan BI-Rate sebesar 50 basis poin lagi.
“Tetapi keputusan hari ini memperkuat pandangan kami bahwa BI akan memprioritaskan langkah-langkah non-suku bunga sebelum kembali ke suku bunga kebijakan,” tutur Faiz dalam keterangannya, Rabu (19/8.2026).
Baca Juga: BI Ungkap Investasi Mulai Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi Ia menilai perluasan insentif swap sangat penting. Dengan memperluas lindung nilai yang lebih murah dari arus portofolio ke
Foreign Direct Investment (FDI) dan pinjaman luar negeri bank, BI memperluas saluran insentif di mana mata uang asing dapat masuk ke sistem keuangan domestik dengan biaya lindung nilai yang lebih rendah. Dikombinasikan dengan intervensi valuta asing, kalibrasi Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), dan langkah-langkah likuiditas, ini memberi BI lebih banyak ruang untuk mempertahankan Rupiah tanpa langsung memberlakukan pengetatan tambahan pada kondisi keuangan domestik. “Ekspektasi BI sendiri tentang satu kenaikan suku bunga Fed pada kuartal keempat tahun 2026 juga konsisten dengan perkiraan dasar kami dan menunjukkan bahwa mempertahankan opsi untuk pengetatan lebih lanjut tetap tepat,” ungkapnya. Lebih lanjut, Faiz menilai opsi tersebut sangat penting mengingat prospek neraca eksternal kami yang lebih hati-hati. Ia memperkirakan defisit transaksi berjalan melebar menjadi sekitar US$ 11 miliar, atau 2,8% dari PDB, pada kuartal kedua tahun 2026, dan memperkirakan defisit transaksi berjalan sepanjang tahun sekitar 1,5% dari PDB. Pelebaran defisit transaksi berjalan itu sendiri masih terkendali, tetapi meningkatkan ketergantungan Indonesia pada pembiayaan rekening keuangan pada saat arus portofolio global tetap sensitif terhadap suku bunga AS dan sentimen risiko.
“Oleh karena itu, kami melihat penahanan suku bunga pada bulan Agustus sebagai jeda taktis daripada akhir siklus pengetatan,” jelasnya. Menurutnya, kenaikan suku bunga lebih lanjut menuju perkiraan akhir tahun sebesar 6,25% tetap bergantung pada tekanan eksternal yang diperbarui. Untuk saat ini, perangkat valuta asing BI yang lebih luas memberi waktu, tetapi bias pengetatan tetap ada.
Baca Juga: Bank Indonesia Terus Perkuat Bauran Kebijakan Moneter untuk Jaga Inflasi Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News