BI-Rate Ditahan 5,75%, Bunga Deposito Masih Berpotensi Naik hingga Akhir Tahun



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kenaikan suku bunga acuan hingga 100 bps sejak awal tahun masih terasa dampaknya. Meski saat ini Bank Indonesia (BI) belum lanjut menaikkan BI-Rate, suku bunga simpanan perbankan masih berpotensi naik hingga akhir tahun. 

Pada Rapat Dewan Gubernur terbaru, BI memutuskan untuk menahan BI-Rate tetap di level 5,75%. Namun begitu, merespons kenaikan sejak awal tahun, suku bunga deposito per Agustus 2026 tercatat masih mengalami kenaikan dari bulan sebelumnya pada sejumlah tenor. 

Rinciannya, suku bunga deposito tenor satu bulan naik dari 5% menjadi 5,1%, tenor tiga bulan naik dari 5,5% menjadi 5,8%, dan tenor enam bulan naik dari 5,4% menjadi 5,6%, sementara tenor dua tahun turun dari 5,8% menjadi 4,2%. 


Baca Juga: Kejar Target FLPP, Pemerintah Siapkan Akad Massal 71.000 Rumah Subsidi

Ekonom sekaligus Guru Besar Ekonomi Universitas Airlangga Rahma Gafmi menyebut, dalam waktu dekat suku bunga simpanan masih berpotensi bergerak sideways di level relatif tinggi. Peluang bagi bank untuk benar-benar menurunkan secara simultan dan signifikan baru akan terbuka jika ada konsistensi kebijakan prostabilitas dan inflow modal asing. 

“Stabilitas nilai tukar rupiah terus menguat dan premi risiko domestik menurun, sehingga memberikan keyakinan bagi BI untuk melonggarkan kebijakan moneternya di masa mendatang,” ujar Rahma kepada Kontan, Minggu (27/9/2026). 

Di level individu perbankan, Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan mengaku menurunkan suku bunga simpanan memang tak mudah. Sebabnya, kata Lani, persaingan likuiditas di pasar masih terbilang ketat. 

Dalam kondisi itu, bank memang mau tak mau mesti menawarkan bunga level tinggi, meski taruhannya adalah kenaikan biaya dana–hingga Juli 2026, beban bunga CIMB Niaga naik 10,03% secara tahunan menjadi Rp 5,73 triliun dan turut menggerus pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) turun 0,06% secara tahunan menjadi Rp 6,93 triliun. 

Lani memprediksi kondisi ini belum bakal berubah dalam waktu dekat. “Kelihatannya biaya dana belum bisa turun dan ada potensi untuk naik sampai akhir tahun,” tuturnya kepada Kontan, Jumat (25/9/2026). 

Namun, realisasinya nanti tetap bergantung pada kompetisi dana pihak ketiga (DPK) di pasar. Direktur OK Bank Efdinal Alamsyah sepakat soal itu, ia mengaku pihaknya mengelola pricing dana secara selektif. 

Tak semata-mata mengikuti kenaikan suku bunga pasar, OK Bank mempertimbangkan kebutuhan likuiditas dan dampak terhadap biaya dana dalam menentukan suku bunga simpanan. 

Baca Juga: ALTO Perkuat QRIS, Gandeng BNI, BNC, Maybank dan blu BCA Digital

Secara umum, Efdinal menyebut suku bunga simpanan OK Bank juga bergerak sejalan dengan tren industri, meski ia tak merincikan angkanya. Namun begitu, seiring keputusan BI-Rate menahan suku bunga di levelnya terkini, ia bilang ada ruang kenaikan suku bunga simpanan yang lebih selektif ke depannya. 

“Suku bunga dana tidak hanya ditentukan oleh BI-Rate, tetapi juga oleh kondisi likuiditas perbankan, persaingan dalam menghimpun DPK, kebutuhan pertumbuhan kredit, kondisi pasar uang, serta strategi pendanaan masing-masing bank,” jelas Efdinal. 

Apabila likuiditas industri membaik dan kompetisi DPK mereda, menurutnya suku bunga dana berpotensi lebih stabil dan secara bertahap dapat menyesuaikan. Namun jika yang terjadi sebaliknya, suku bunga dana memang dapat tetap berada pada level yang relatif tinggi meskipun BI-Rate tak mengalami kenaikan.

Dalam pandangan Direktur Network & Retail Funding Bank Tabungan Negara (BTN) Rully Setiawan, kebijakan BI menahan suku bunga secara teoretis dapat menjawab tantangan utama industri perbankan tahun ini, yakni likuiditas. 

“Suku bunga ditahan itu kami bisa menjaga ekspansi kredit kami dengan suku bunga yang tidak diragukan oleh masyarakat,” kata Rully. 

Pun, menurutnya BI juga berkomitmen untuk menjaga pertumbuhan ekonomi sehingga kenaikan suku bunga global tak bakal serta-merta ditransmisikan ke suku bunga acuan domestik. 

Baca Juga: LDR Tembus 127%, Bank Danamon (BDMN) Sebut Ini Akibat Struktur Pendanaan Anak Usaha

Di BTN sendiri, Rully mengaku suku bunga simpanan justru cenderung diturunkan kini. “Kami turunkan, tidak seperti satu atau dua bulan lalu,” sebutnya. Menurut Rully, saat ini pihaknya menetapkan batas untuk porsi deposito sebagai dana mahal di DPK dan mengoptimalkan dana murah untuk menjaga biaya dana di level yang efisien. 

Bayang-bayang Dana SAL

Berkaitan dengan penentuan suku bunga simpanan, Rahma bilang isu penarikan dana saldo anggaran lebih (SAL) di perbankan selalu menjadi salah satu variabel kunci karena menentukan arah likuiditas makro.

Sebagian dana SAL ditarik bertahap tahun ini sesuai kebutuhan pemerintah. Ketika pemerintah melakukan penarikan untuk membiayai belanja negara, misalnya pada paruh kedua tahun anggaran ketika realisasi belanja mencapai puncaknya, likuiditas di perbankan tempat dana tersebut parkir bakal mengalami kontraksi temporer. 

“Bagi Himbara yang selama ini menjadi jangkar likuiditas sistemik, penurunan likuiditas ini otomatis memperketat rasio likuiditas. Himbara maupun bank umum lainnya harus kembali mengandalkan DPK untuk menjaga kapasitas ekspansi kredit,” jelas Rahma. 

Kendati begitu, menurutnya saat ini perbankan sudah jauh lebih lincah dalam mengelola struktur pendanaan, didukung berbagai insentif dan skema yang dibentuk BI untuk memperdalam pasar uang. 

Di BTN, Rully mengaku penarikan dana SAL bakal memunculkan tantangan baru nantinya. “Itu kan sebetulnya tujuannya ekspansi kredit, itu dalam jangka panjang. Nah dana SAL itu baru kami terima kurang dari setahun, itu memang challenging,” tuturnya. 

Namun begitu, pihaknya juga telah mempersiapkan pengganti pendanaannya, salah satunya dengan memperkuat ekosistem digital untuk menjaring dana murah melalui masifnya transaksi. 

Baca Juga: LDR Tembus 127%, Bank Danamon (BDMN) Sebut Ini Akibat Struktur Pendanaan Anak Usaha

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News