KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank Indonesia (BI) diperkirakan mempertahankan suku bunga atau BI-Rate di level 4,75% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) 17-18 Maret 2026. Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede memperkirakan, BI-Rate kemungkinan masih ditahan pada bulan ini karena, BI sendiri menegaskan prioritas utamanya saat ini adalah menjaga stabilitas rupiah di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi. “BI juga masih membuka ruang penurunan suku bunga ke depan, tetapi itu lebih masuk akal dilakukan setelah tekanan nilai tukar mereda dan inflasi kembali lebih nyaman,” tutur Josua kepada Kontan, (15/3/2026).
Adapun Josua menilai, pelemahan rupiah saat ini masih didorong tekanan luar yang kuat. Kurs acuan BI pada 13 Maret tercatat Rp16.934 per dolar AS, setelah sempat Rp16.974 pada 9 Maret, sehingga terlihat rupiah masih bergerak di area lemah.
Baca Juga: Ekonom Proyeksi BI-Rate Masih Ditahan di Level 4,75% Maret 2026 Tekanan terhadap perekonomian tersebut kata Josua, berasal dari lonjakan harga minyak akibat konflik di Timur Tengah, kehati-hatian pasar terhadap arah suku bunga Amerika Serikat, serta sentimen investor terhadap aset negara berkembang. Harga minyak Brent tercatat ditutup di sekitar US$103 per barel pada 13 Maret 2026, sementara asumsi APBN 2026 disusun dengan kurs Rp16.500 per dolar AS dan harga minyak US$70 per barel. Kondisi tersebut dinilai membuat potensi tekanan terhadap rupiah dan fiskal semakin besar. Karena itu, menurutnya upaya BI dalam menahan pelemahan rupiah disebut tidak hanya dilakukan dengan mempertahankan suku bunga, tetapi juga melalui intervensi di pasar valas luar negeri dan domestik, pembelian surat berharga negara (SBN) di pasar sekunder, serta pengaturan likuiditas agar pasar tetap dalam dan aliran dana tidak cepat keluar.
Baca Juga: Bank Indonesia Diprediksi Mempertahankan BI-Rate di Level 4,75% Pada RDG Maret 2026 Hingga 18 Februari, Bank Indonesia tercatat telah membeli SBN sekitar Rp39,92 triliun dan terus memperkuat berbagai instrumen stabilisasinya.
“Dengan kondisi sekarang, perkiraan saya rupiah dalam waktu dekat masih akan berfluktuasi di kisaran Rp16.850 sampai Rp17.050 per dolar AS, dengan risiko sesekali melewati Rp17.000 per dollar AS bila harga minyak tetap sangat tinggi atau ketegangan makin membesar,” ungkapnya. Sementara itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dinilai berpeluang menguat kembali setelah tekanan eksternal mereda, terutama apabila ketegangan di Timur Tengah mulai menurun, harga minyak menjauh dari kisaran US$ 100 per barel, dan arus dana asing kembali lebih stabil. Namun, perbaikan tersebut diperkirakan tidak terjadi dalam waktu singkat atau dalam hitungan hari.
Baca Juga: Bank Indonesia Kembali Pertahankan BI-Rate di Level 4,75% Pada RDG Februari 2026 Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News