KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Masa penawaran Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) ritel Sukuk Tabungan seri ST016 menyisakan enam hari sebelum ditutup pada Rabu (3/6/2026). Menjelang penutupan, minat investor terhadap instrumen ini masih cukup tinggi terutama untuk tenor pendek. ST016 terdiri dari dua pilihan tenor, yakni ST016-T2 dengan jangka waktu dua tahun dan ST016-T4 bertenor empat tahun. Kedua seri menawarkan skema kupon
floating with floor, sehingga imbal hasil berpotensi naik mengikuti perubahan suku bunga acuan, tetapi tidak akan turun di bawah batas minimal yang telah ditetapkan pemerintah.
Berdasarkan data mitra distribusi Bareksa per Kamis (28/5), penjualan ST016-T2 telah mencapai 92,75% dari kuota nasional. Sementara itu, ST016-T4 telah terserap 82,54% dari kuota yang tersedia.
Baca Juga: Kuota ST016 Menipis, Waktu Penawaran Tinggal Seminggu Lagi Kepala Pusat Makro Ekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Muhammad Rizal Taufikurahman, menilai ST016 sebagai instrumen defensif yang relatif aman di tengah kondisi pasar yang belum stabil. "Di tengah volatilitas pasar keuangan global, ketidakpastian arah suku bunga global, dan pergerakan rupiah yang masih fluktuatif, instrumen SBN ritel syariah tetap menarik karena menawarkan kombinasi imbal hasil relatif tinggi, pajak lebih rendah dibanding deposito, serta dijamin pemerintah," ujar Rizal kepada Kontan, Kamis (28/5/2026). Menurut Rizal, karakter
floating with floor pada ST016 juga menjadi daya tarik karena memberikan perlindungan bagi investor apabila suku bunga acuan kembali naik. Sebagai informasi, Bank Indonesia (BI) telah menaikkan BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25% pada Rabu (20/5). Kenaikan tersebut membuat kupon ST016-T2 berpotensi naik dari 6,05% menjadi 6,55%, sedangkan ST016-T4 meningkat dari 6,25% menjadi 6,75%.
Baca Juga: BI Rate Naik, SBN Floating Jadi Incaran di Tengah Tren Kenaikan Suku Bunga BI Rizal menilai dominasi permintaan pada ST016-T2 mencerminkan preferensi investor terhadap tenor lebih pendek di tengah ketidakpastian arah suku bunga dan kondisi global. "Investor saat ini cenderung menghindari
lock-in terlalu panjang karena masih menunggu arah BI Rate, yield SBN, dan kondisi global ke depan. Tenor 2 tahun dianggap lebih fleksibel dengan risiko durasi yang lebih rendah, sehingga permintaannya lebih agresif hingga kuotanya hampir habis," kata Rizal. Sebaliknya, tenor 4 tahun relatif kurang diminati karena investor masih berhati-hati mengunci dana lebih lama di tengah ekspektasi perubahan suku bunga dan potensi volatilitas pasar obligasi beberapa tahun ke depan. Ia menambahkan, imbal hasil ST016 yang berada di kisaran 6% masih kompetitif dibanding deposito perbankan besar, terutama karena instrumen ini dijamin negara dan berbasis syariah. Namun, investor ST016 umumnya berasal dari profil konservatif hingga moderat yang lebih mengutamakan stabilitas imbal hasil dan kepastian arus kas dibanding potensi
capital gain jangka pendek.
Baca Juga: Penjualan ST016 Masih Positif di Tengah Tekanan Pasar Global Dengan sisa masa penawaran yang semakin singkat, Rizal memperkirakan kuota ST016-T2 berpeluang habis sebelum masa penawaran berakhir apabila tren pemesanan tetap tinggi.
Bahkan, ia memperkirakan adanya potensi penambahan kuota tetap terbuka, terutama jika pemerintah melihat permintaan investor masih sangat kuat seperti pada beberapa seri SBN ritel sebelumnya. "Ke depan hingga akhir tahun, saya melihat prospek SBN ritel syariah masih positif karena ketidakpastian global belum sepenuhnya reda, sementara kebutuhan pembiayaan APBN tetap besar," kata Rizal. Selama
spread imbal hasil masih menarik dan stabilitas fiskal terjaga, Rizal menilai instrumen SBN ritel syariah kemungkinan tetap menjadi pilihan utama investor domestik yang mencari instrumen aman, likuid, dan relatif stabil di tengah volatilitas pasar keuangan global. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News