BI Rate Naik ke 5,5%, Budi Gadai Belum Akan Naikkan Bunga Gadai



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI-Rate) menjadi 5,50% diprediksi akan turut memengaruhi perusahaan pergadaian.

Meski begitu, perusahaan gadai swasta PT Budi Gadai Indonesia (Budi Gadai) menyatakan belum akan menyesuaikan bunga gadai sesuai dengan kenaikan BI-Rate.

Direktur Budi Gadai, Budiarto Sembiring menjelaskan bahwa kenaikan BI-Rate memang menjadi salah satu faktor yang dipertimbangkan perusahaan dalam menentukan kebijakan bunga gadai. Namun, keputusan akhir tetap bergantung pada kebijakan internal perusahaan.


Baca Juga: Industri Pergadaian Tumbuh Pesat, Kebutuhan Juru Taksir Diperkirakan Meningkat

"Keputusan menaikkan bunga gadai tetap bergantung pada kebijakan perusahaan," ujarnya kepada Kontan, Jumat (12/6/2026).

Meski belum memastikan adanya penyesuaian bunga gadai dalam waktu dekat, Budi mengatakan kalau perusahaan  telah melakukan perubahan bunga admin untuk produk gadai emas sejak Mei 2026.

Bunga admin untuk jaminan emas naik dari yang sebelumnya 2,4% menjadi 3% atau kenaikan yang ditetapkan mencapai 0,6%.

Di sisi lain, jika mereka nantinya memutuskan untuk kembali melakukan penyesuaian bunga gadai, pelaksanaannya dapat dilakukan segera setelah adanya keputusan dari manajemen, kemudian ditetapkan beberapa minggu atau bulan kemudian.

Namun, Budi menegaskan kalau tidak tertutup kemungkinan perusahaan akan tetap mempertahankan bunga yang saat ini berlaku meskipun suku bunga acuan mengalami kenaikan.

Di samping itu, perusahaan mengakui bahwa kenaikan bunga gadai berpotensi memengaruhi minat masyarakat untuk menggadaikan barang.

Kata Budi, kenaikan bunga akan membuat biaya pinjaman menjadi lebih mahal sehingga sebagian nasabah dapat mengurangi minat untuk menggadai atau membandingkan biaya pinjaman dengan lembaga gadai maupun pembiayaan lainnya.

"Apabila bunga gadai naik maka biaya pinjaman menjadi lebih mahal. Hal tersebut dapat mengakibatkan minat nasabah untuk menggadai menjadi berkurang," jelas manajemen.

Meski demikian, dampaknya terhadap volume transaksi diperkirakan tidak terlalu besar. Pasalnya, layanan gadai umumnya dimanfaatkan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan dana yang bersifat mendesak.

Sementara itu, tren gadai di Budi Gadai pada kuartal II 2026 disebut hingga saat ini relatif masih stabil. Dengan kata lain, kebutuhan masyarakat terhadap layanan gadai masih terjaga sehingga aktivitas bisnis pada periode ini tetap berjalan normal.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News