KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI bulan Juni ke level 5,75% diperkirakan dapat berpotensi mengerek yield obligasi pemerintah maupun obligasi korporasi pada level yang relatif tinggi hingga semester II 2026. Diketahui, saat ini yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun berada di level 6,968% pada Kamis (18/6), jauh lebih tinggi dibandingkan awal tahun yang masih di kisaran 6,0%. Sejalan dengan itu, Kepala Departemen Riset dan Informasi Pasar PT Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI) Salvian Fernando, mencermati pasar obligasi korporasi tengah menunjukkan fenomena
bear flattening, yaitu kondisi ketika yield di seluruh tenor mengalami kenaikan, namun kenaikan pada tenor pendek relatif lebih besar dibanding tenor panjang.
Baca Juga: Rupiah Ditutup Melemah ke Rp 17.794, Pasar Cermati MSCI dan BI Rate Melansir data PHEI per 12 Juni 2026, yield rata-rata obligasi korporasi tenor pendek atau di bawah lima tahun telah mencapai 7,26%, naik dari 5,19% pada akhir 2025. Pada tenor menengah atau rentang lima hingga tujuh tahun, yield saat ini berada di level 7,33%, meningkat dari 5,80% pada akhir 2025. Sementara itu, untuk tenor panjang di atas tujuh tahun, yield berada di kisaran 7,33%, naik sekitar 85,3 basis poin sejak akhir 2025 yang di level 6,48%. Menurut Salvian, yield obligasi telah mencerminkan ekspektasi kenaikan suku bunga yang terjadi hingga saat ini, tetapi masih berpotensi naik apabila ekspektasi pengetatan moneter kembali menguat. "Untuk semester II, kami melihat yield obligasi seharusnya masih akan berada dalam tren yang tinggi karena akan ada repricing risiko. Repricing risiko yang terjadi saat ini pada dasarnya sudah mencerminkan ekspektasi kenaikan BI Rate sampai dengan mungkin hari ini," ujar Salvian dalam agenda Edukasi Wartawan terkait Market Outlook Obligasi Semester 2 Tahun 2026, Kamis (18/6/2026). Salvian mengatakan, kenaikan BI Rate saat ini pada dasarnya sudah tercermin dalam pergerakan yield obligasi. Sebab, pasar obligasi umumnya bergerak lebih dulu dibandingkan pengumuman resmi suku bunga acuan. Di sisi lain, ia menyebut kenaikan BI Rate belum mampu menarik kembali minat investor asing secara signifikan ke pasar obligasi domestik. Berdasarkan data hingga 12 Juni 2026, kepemilikan asing di SBN masih mencatatkan arus keluar (outflow) sekitar Rp 13 triliun secara
year to date. “Memang terdapat inflow sekitar Rp 3 triliun hingga bulan Juni, tetapi saya tidak bisa mengatakan bahwa ini merupakan peningkatan minat investor asing karena angkanya masih terlalu kecil,” ungkapnya. Karena itu, ia menilai dampak kenaikan BI Rate terhadap keputusan investor global untuk kembali masuk ke pasar obligasi Indonesia saat ini belum terlihat adanya peningkatan minat yang signifikan.
Lebih lanjut, Salvian mengungkapkan terdapat tiga faktor utama yang saat ini menjadi pendorong pergerakan yield obligasi.
Pertama, meningkatnya ketegangan geopolitik global (
geopolitical tension).
Kedua, ketidakpastian arah kebijakan moneter global (
uncertainty in monetary policy).
Ketiga, perkembangan kondisi ekonomi makro Indonesia. Menurutnya, kombinasi ketiga faktor tersebut menjadi sumber utama volatilitas di pasar obligasi dan berpotensi terus memengaruhi arah yield hingga beberapa waktu ke depan.
Baca Juga: Strategi Optimalkan Cuan di Tengah Rotasi Aset ke Safe Haven Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News