BI Rate Naik, Kupon Obligasi Korporasi Berpotensi Terkerek



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) ke level 5,75% berpotensi mendorong penyesuaian kupon obligasi korporasi.

Seiring naiknya yield Surat Berharga Negara (SBN), investor kini menuntut imbal hasil yang lebih tinggi untuk mengompensasi risiko kredit dan likuiditas yang melekat pada surat utang korporasi.

Fixed Income Analyst Pefindo, Ahmad Nasrudin, mengatakan bahwa transmisi kenaikan BI Rate ke pasar obligasi korporasi memang tidak selalu berlangsung secara langsung dan cepat. Namun, kenaikan yield SBN sebagai acuan imbal hasil bebas risiko telah mulai tercermin pada penerbitan obligasi korporasi baru.


Menurut Ahmad, ketika yield SBN naik, investor akan meminta tambahan kupon dari obligasi korporasi untuk mengompensasi risiko kredit, risiko likuiditas, serta potensi volatilitas harga di pasar sekunder.

Baca Juga: Saham GOTO dan TRIM Dihapus dari Indeks FTSE Global Equity Mid Cap

"Karena itu, penerbit yang masuk pasar setelah kenaikan suku bunga biasanya perlu menawarkan kupon yang lebih kompetitif dibandingkan dengan periode ketika yield acuan masih rendah," ujarnya kepada Kontan, Kamis (18/6/2026).

Penyesuaian tersebut mulai terlihat pada penerbitan obligasi korporasi berperingkat tinggi. Ahmad mencontohkan sektor multifinance yang mengalami kenaikan rata-rata kupon dalam beberapa bulan terakhir.

Untuk obligasi korporasi berperingkat AAA tenor satu tahun, rata-rata kupon naik dari 4,84% pada kuartal I 2026 menjadi 5,10% pada periode April–Mei 2026. Sementara untuk tenor tiga tahun, rata-rata kupon meningkat dari 5,64% menjadi 5,95%.

Meski demikian, Ahmad menilai kenaikan tersebut belum sepenuhnya mencerminkan lonjakan yield SBN yang terjadi belakangan ini. Per 16 Juni 2026, yield SUN tenor dua tahun telah mencapai 7,07%, sedangkan yield SUN tenor 10 tahun berada di level 7,42%.

“Dengan acuan tersebut, obligasi korporasi baru akan lebih menarik jika memberikan premi di atas SBN sesuai peringkatnya,” imbuhnya.

Untuk obligasi korporasi berperingkat AAA dan AA dengan tenor pendek hingga menengah, Ahmad menilai kupon di kisaran high-6% hingga low-7% mulai terlihat kompetitif. Sementara itu, obligasi berperingkat A kemungkinan perlu menawarkan kupon di area high-8% hingga low-9%.

Baca Juga: Hasil MSCI Global Market Accessibility Review 2026 Keluar, Begini Kata OJK

Adapun untuk peringkat BBB, kompensasi biasanya perlu lebih tinggi lagi, bahkan berpotensi masuk area dua digit, karena risiko kredit dan risiko likuiditasnya lebih besar. “Tapi kisaran tersebut perlu dibaca sebagai pendekatan teoritis berbasis relative pricing, bukan rekomendasi investasi,” tandasnya.

Ahmad menambahkan, deposito saat ini menjadi pesaing kuat bagi obligasi korporasi karena menawarkan tingkat risiko yang relatif rendah dengan likuiditas yang lebih baik. Di sisi lain, SBN tetap menjadi tolok ukur utama karena didukung oleh risiko kredit pemerintah.

Karena itu, menurut dia, daya tarik obligasi korporasi akan sangat ditentukan oleh kemampuan penerbit dalam menawarkan tambahan imbal hasil yang cukup untuk mengompensasi risiko kredit, tenor, likuiditas pasar sekunder, hingga potensi mark-to-market loss apabila yield kembali naik.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News