BI Rate Naik Secara Mengejutkan, Yield SBN Berisiko Tembus 8%



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Keputusan Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan kembali menuai beragam respons dari pelaku pasar. Di tengah tren penurunan harga minyak dunia dan sikap sejumlah bank sentral global yang memilih menahan suku bunga, langkah BI dinilai berpotensi menambah tekanan pada pasar obligasi domestik.

BI telah menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 100 basis poin (bps) sepanjang tahun 2026. Langkah agresif tersebut ditempuh untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tingginya ketidakpastian global dan derasnya tekanan eksternal. Yang terbaru, Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada 17-18 Juni 2026 memutuskan menaikkan BI Rate sebesar 25 bps menjadi 5,75%. 

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai kenaikan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin dalam rapat terbaru BI terbilang cukup mengejutkan. Menurutnya, kondisi global saat ini belum sepenuhnya mendukung perlunya pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut.


Baca Juga: Instrumen Pasar Uang Makin Menarik, Penerbitan Obligasi Korporasi Tertahan

Ia menyoroti harga minyak dunia yang beberapa hari terakhir cenderung melemah akibat kondisi pasokan yang melimpah (oversupply). Selain itu, sejumlah bank sentral utama dunia seperti Federal Reserve (The Fed) dan Bank Sentral Eropa (ECB) juga masih mempertahankan suku bunga acuannya.

Menurut Ibrahim, salah satu faktor yang kemungkinan menjadi pertimbangan BI adalah upaya menjaga persepsi investor global terhadap pasar keuangan Indonesia. Ia menyinggung keputusan MSCI yang akan diumumkan dalam waktu dekat dan berpotensi memengaruhi arus modal asing ke pasar domestik.

Saat ini pasar modal Indonesia tengah menanti pengumuman hasil peninjauan pasar dari MSCI. Pertama, pengumuman hasil Global Market Accessibility Review pada tanggal 19 Juni. Kemudian empat hari setelahnya MSCI juga akan mengumumkan hasil Maket Classification Review pada 23 Juni. “Nah, mungkin ada ketakutan ya bagi Bank Indonesia ini karena dalam minggu-minggu ini terkait dengan keputusan MSCI yang akan diumumkan dalam waktu dekat. Pasar menantikan apakah status Indonesia sebagai bagian dari emerging market akan tetap dipertahankan atau pembekuan konstituen akan dicabut,” ungkap Ibrahim, Kamis (18/6/2026).

Selain itu, Ibrahim menilai meningkatnya tensi perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok juga menjadi faktor yang turut membebani nilai tukar rupiah. Ketidakpastian global tersebut dinilai membuat otoritas moneter lebih berhati-hati dalam menjaga stabilitas pasar keuangan.

Meski demikian, Ibrahim meragukan efektivitas kenaikan suku bunga dalam menopang rupiah. Menurutnya, respons pasar setelah pengumuman BI menunjukkan bahwa investor tidak sepenuhnya menyambut positif kebijakan tersebut.

Baca Juga: Adhi Commuter Properti (ADCP) Bayar Bunga Obligasi, Ini Rinciannya

Ia mencatat rupiah sempat mengalami pelemahan sesaat setelah pengumuman kenaikan suku bunga sebelum akhirnya bergerak stabil kembali. 

“Artinya apa? Bahwa pasar menolak Bank Indonesia menaikkan suku bunga, walaupun Gubernur Bank Indonesia sudah mengatakan bahwa tujuan menaikkan suku bunga adalah untuk stabilitas mata uang rupiah,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Ibrahim mengingatkan bahwa kenaikan suku bunga berpotensi mendorong kenaikan yield obligasi pemerintah. Diketahui, saat ini yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun berada di level 6,968% pada Kamis (18/6), posisi ini sudah jauh lebih tinggi dibandingkan awal tahun yang masih di kisaran 6,0%. Tetapi pekan lalu pada (11/6) yield SBN 10 tahun sempat tembus level 7,4%.

"Menurut saya bukan stabilitas mata uang rupiah, karena kalau menaikkan suku bunga ini akan berdampak terhadap obligasi tenor 10 tahun, bukan lagi 7,4% bisa saja di 8%," katanya.

Menurut Ibrahim, kenaikan yield tersebut perlu dicermati karena dapat berdampak pada beban pembayaran utang pemerintah di masa mendatang. Semakin tinggi yield obligasi, semakin besar pula biaya yang harus ditanggung pemerintah saat melakukan penerbitan surat utang baru.

Karena itu, ia memperkirakan tekanan terhadap rupiah masih berpotensi berlanjut. Ibrahim memperkirakan potensi rupiah kembali ke level Rp 18.000 per dolar AS terbuka dalam jangka pendek.

Baca Juga: Tender Offer MAPI Dimulai, Sebaiknya Pemegang Saham Ikut Jual atau Hold?

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News