BI Rate Sudah Naik 100 Bps, Tapi Mengapa Rupiah dan IHSG Masih Melemah?



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sesuai dengan konsensus pasar, Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mengerek suku bunga acuan alias BI Rate sebesar 25 basis point (bps) menjadi 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDB) BI pada Kamis (18/6/2026). 

Dengan demikian, sepanjang 2026 berjalan ini bank sentral Indonesia itu telah menaikkan suku bunga acuan sebanyak 100 bps, sebelumnya BI menaikkan suku bunga masing-masing 25 bps dan 50 bps.

Pasca pengumuman tersebut, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah ditutup melemah. Rupiah di pasar spot ditutup di level Rp 17.794 per dolar Amerika Serikat (AS) atau melemah 0,18% dibanding penutupan hari sebelumnya. 


Baca Juga: Yield Obligasi Tenor Pendek Melonjak, Inverted Yield Curve Berpotensi Terjadi?

IHSG juga melanjutkan pelemahannya dengan menutup perdagangan Kamis (18/6/2026) di level 6.172,34. Ini terkoreksi 48,39 poin atau turun 0,78% dibandingkan penutupan hari sebelumnya.  

Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata bilang kenaikan BI Rate 100 bps hanya dalam waktu sekitar satu bulan sangat agresif untuk standar normal BI, walaupun belum sebanding dengan periode krisis ekstrem seperti 1998. 

“Saat ini, BI tidak menghadapi krisis sistemik seperti 1998, tetapi melakukan antisipatif untuk menjaga rupiah di tengah sikap The Fed yang kembali hawkish, penguatan dolar AS dan keraguan investor asing,” katanya kepada Kontan, Kamis (18/6/2026). 

Namun, Liza menyebut kenaikan BI Rate 25 bps dalam RGD Mei 2026 ini merupakan sinyal bahwa BI memilih memilih mempertahankan stabilitas Rupiah terlebih dahulu, meskipun konsekuensinya biaya dana menjadi lebih mahal. 

“Dalam jangka pendek, ini positif untuk Rupiah karena memperlebar daya tarik yield aset Rupiah dan menunjukkan BI tidak membiarkan pelemahan kurs bergerak terlalu jauh,” ucap Liza. 

Liza menilai keputusan BI ini bagi pasar saham, efeknya lebih campuran. Di satu sisi, stabilisasi Rupiah bisa menurunkan risk premium Indonesia dan menjadi sentimen positif bagi asing. 

Baca Juga: IHSG Bakal Bergerak Terbatas Jumat (19/6), Pasar Tunggu Review MSCI & Efek BI Rate

“Tetapi di sisi lain, kenaikan bunga menekan valuasi saham, menaikkan cost of fund, dan berpotensi memperlambat konsumsi serta investasi. Jadi, ini lebih tepat disebut sebagai obat stabilisasi daripada solusi penuh,” katanya. 

Liza menegaskan kenaikan BI Rate dapat membantu meredakan tekanan terhadap rupiah. Namun, keberlanjutan arus modal asing tetap bergantung pada kredibilitas fiskal, efisiensi belanja pemerintah, kejelasan komunikasi kebijakan dan kepastian regulasi.

Senada, Head of Research KISI Muhammad Wafi menambahkan kenaikan BI Rate akan berdampak positif bagi rupiah dalam jangka pendek karena yield spread antara suku bunga acuan Tanah Air dengan AS akan melebar.

“Tapi bukan solusi jangka panjang selama fiskal masih diragukan asing. Inflow yang berkelanjutan butuh lebih dari suku bunga tinggi, yaitu kejelasan fiskal dan resolusi isu MSCI,” ucapnya. 

Era Suku Bunga Tinggi

Kenaikan BI Rate ini sekaligus membuka kembali era suku bunga tinggi. Di mana, ini akan berdampak pada emiten yang kinerjanya sensitif terhadap pergerakan suku bunga acuan mulai dari perbankan hingga properti. 

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menjelaskan saham perbankan menjadi salah satu sektor yang paling sensitif terhadap perubahan suku bunga. Kenaikan cost of fund berpotensi menekan margin perbankan.

Meski demikian, menurut Nafan, tekanan tersebut masih relatif terbatas karena fundamental industri perbankan Tanah Air masih tetap kuat dengan kualitas aset masih terjaga. 

"Perbankan masih mampu menjaga net interest margin dan rasio kredit bermasalah atau NPL juga masih terkendali," kata dia.

Liza menambahkan sektor perbankan masih relatif defensif, terutama bank besar, karena mereka punya likuiditas kuat, CASA tinggi, dan pricing power, tetapi risiko pada potensi kenaikan NPL jika bunga tinggi bertahan lama. 

“Properti dan otomotif lebih rentan karena pembelian rumah dan kendaraan sangat bergantung pada cicilan. Jika bunga KPR dan kredit kendaraan naik, permintaan bisa tertahan,” ucap Liza. 

Wafi menambah walaupun ada potensi Net Interest Margin (NIM) tertekan, tetapi BBCA dan BMRI masih resilien ditopang oleh CASA yang tinggi. Tekanan juga terasa pada sektor otomotif karena permintaan yang melemah. 

Di tengah era suku bunga tinggi, Wafi saham pilihan Wafi jatuh pada ADRO, TKLM, PTBA, BBRI dan BBCA. Sementara saham pilihan Nafan jatuh pada BBNI, BMRI, BBRI, BBTN, BBCA dan UNVR.   

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News