BI rate tetap, IHSG tergelincir 0,49 %



JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tergelincir menutup perdagangan Kamis (21/7) meski masih mantap di level 5.200. Mengacu data RTI, indeks ditutup turun 0,49% atau 25,850 poin ke level 5.216,973.

Ada 182 saham bergerak turun, 111 saham bergerak naik, dan 109 saham stagnan. Perdagangan hari ini melibatkan 7,88 miliar lot saham dengan nilai transaksi mencapai Rp 7,21 triliun.

Delapan dari 10 indeks sektoral menyeret IHSG ke zona merah. Sektor infrastruktur memimpin pelemahan 1,38%.


Sementara, dua indeks sektoral yang menghijau yakni; barang konsumsi naik 0,54%, dan manufaktur naik 0,26%.

Hari ini, net buy asing di pasar reguler mencapai Rp 503,496 miliar dan Rp 494,855 miliar untuk keseluruhan perdagangan.

Saham-saham yang masuk top losers LQ45 antara lain; PT Global Mediacom Tbk (BMTR) turun 6,68% ke Rp 1.065, PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO) turun 4,32% ke Rp 10.525, dan PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) turun 3,69% ke Rp 6.525.

Saham-saham yang masuk top gainers LQ45 antara lain; PT Gudang Garam Tbk (GGRM) naik 2,77% ke Rp 77.100, PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI) naik 2,64% ke Rp 505, dan PT PP (persero) Tbk (PTPP) naik 2,26% ke Rp 4.080.

Asal tahu saja, Bank Indonesia (BI) melalui Rapat Dewan Gubernur BI terhitung 20-21 Juli memutuskan menahan untuk suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 6,50 %,dan bunga acuan penjualan surat berharga bersyarat yang bertenor 7 hari (7-Day Repo Rate) sebesar 5,25 %.

Padahal, sebagian besar ekonom memprediksi BI akan menurunkan kembali suku bunga acuannya pasca pengesahan undang-undang Tax Amnesty. Di mana, BI memprediksi melalui Tax Amnesty akan menghasilkan dana Rp 530 triliun (US$ 43 miliar), membantu memperkuat mata uang dan mengurangi tekanan pada inflasi.

Editor: Yudho Winarto