BI Sebut Ekspansi Usaha Melambat, Undisbursed Loan Tinggi Tahan Laju Ekonomi



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Ekspansi Dunia Usaha yang melambat di tengah tingginya undisbursed loan menjadi salah satu faktor yang menahan laju pertumbuhan ekonomi domestik. Bank Indonesia (BI) menilai, kondisi ini mencerminkan belum optimalnya fungsi intermediasi perbankan dalam mendorong ekspansi ekonomi.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, mengatakan bahwa dari sisi permintaan (demand side), korporasi sebenarnya masih menunjukkan kinerja yang positif. Hal ini tercermin dari tren penjualan dan belanja modal (capital expenditure/capex) yang terus meningkat.

“Korporasi itu sebenarnya bagus, tren-nya masih terus naik, termasuk penjualan dan capex meningkat. Bahkan kredit untuk capex naiknya 21%,” ujar Destry dalam agwnda Kick Off PINISI di Kantor Pusat Bank Indonesia, Jakarta Pusat, Senin (27/4/2026).


Baca Juga: Layanan Transportasi Hotel-Masjidil Haram Makkah Siap Beroprasi Gratis 24 Jam

Namun demikian, ia menyoroti masih tingginya rasio undisbursed loan atau kredit yang belum ditarik terhadap plafon kredit di sejumlah sektor. Kondisi ini menunjukkan adanya ruang besar bagi penyaluran kredit yang belum dimanfaatkan secara optimal.

Destry menjelaskan, beberapa sektor yang mencatat rasio undisbursed loan lebih tinggi dibandingkan rata-rata historis 2021–2025 antara lain sektor pertanian, jasa dunia usaha, konstruksi, serta pengangkutan. Bahkan secara umum, rasio undisbursed loan masih berada di atas 20% dari total plafon kredit.

“Artinya apa? Masih banyak ruang bagi bank atau bagi sektor tersebut untuk mendapatkan pembiayaan dari perbankan,” katanya.

Dari sisi penawaran (supply side), perbankan sebenarnya masih mencatat pertumbuhan kredit yang cukup baik. Hingga Maret 2026, kredit perbankan tumbuh sekitar 9,49% secara tahunan.

Namun, pertumbuhan ini masih didominasi oleh bank-bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara). Oleh karena itu, BI mendorong partisipasi lebih aktif dari bank swasta, bank daerah, hingga bank asing untuk turut memperkuat intermediasi.

“Masih ada kemungkinan informasi yang asimetris, misalnya terkait kelayakan proyek. Ini yang coba kita jembatani,” jelasnya.

Untuk mengatasi kesenjangan antara permintaan dan penawaran kredit tersebut, BI bersama pemerintah meluncurkan program Percepatan Intermediasi Nasional (PINISI). Program ini dirancang sebagai wadah untuk mempertemukan kebutuhan pembiayaan dari sektor riil dengan kapasitas penyaluran kredit dari perbankan.

Melalui PINISI, BI tidak hanya mendorong peningkatan pembiayaan konvensional, tetapi juga membuka peluang skema pembiayaan inovatif seperti blended finance dan penjaminan. Selain itu, program ini juga akan memperkuat aspek project preparation agar proyek-proyek yang ada lebih bankable dan siap dibiayai.

BI menilai, optimalisasi intermediasi ini penting mengingat siklus keuangan domestik masih berada di bawah potensi pertumbuhan ekonomi. Dengan kata lain, ruang ekspansi kredit masih terbuka lebar tanpa memicu tekanan inflasi yang berlebihan.

“Ultimate goals-nya adalah pembiayaan yang optimal, eksekusi proyek yang lebih efektif, dan pertumbuhan ekonomi yang berkualitas serta inklusif,” ungkap Destry.

Ke depan, BI berharap melalui penguatan intermediasi dan penurunan undisbursed loan, fungsi perbankan dapat lebih maksimal dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan.

Baca Juga: Ada Dua Cara Masuk Raudhah di Masjid Nabawi, Ini Mekanismenya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TAG: