BI Sebut Likuiditas Bank Tak Merata, Likuiditas Himbara Ketat Karena Ini



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bank Indonesia (BI) mencermati dinamika likuiditas pasar yang dinilai tak merata. 

Gubernur BI Destry Damayanti mengatakan, BI menilai likuiditas pasar berdasarkan sejumlah indikator, di antaranya suku bunga antarbank INDONIA dan uang beredar (M0). 

Nah dari pengamatan BI, meski sejatinya M0 masih tumbuh di atas 15% hingga Agustus 2026, rupanya penyebarannya tak merata. Kontribusi terbesar masih berasal dari industri keuangan non bank swasta dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). 


Destry bilang, saat ini pemerintah dan BUMN memang menjadi segmen yang banyak mendorong pertumbuhan likuiditas pasar. 

Baca Juga: Bagikan Dividen Interim Rp 6,16 T, Bank Mandiri (BMRI): Apresiasi ke Pemegang Saham

Namun kalau dilihat di industri perbankan, ada fenomena menarik. Destry menyoroti rasio kredit terhadap simpanan (loan to deposit ratio/LDR) sejumlah perbankan yang ada di posisi tinggi, terkhususnya Himpunan Bank Milik Negara (Himbara). 

Sebagai gambaran, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat posisi LDR industri perbankan ada di posisi 88,32% per Juni 2026. Di periode yang sama, LDR Bank Mandiri ada di 92,73%, Bank Rakyat Indonesia (BRI) di 91,3%, Bank Tabungan Negara (BTN) di 96,49%, sementara Bank Negara Indonesia (BNI) di 87,73%. 

Menurut Destry, posisi LDR Himbara yang lebih ketat disebabkan oleh penyaluran kredit yang lebih kencang. Dari situ, lanjutnya, terlihat bahwa likuiditas yang ada di industri tersegmentasi. “Jadi tidak terdistribusi secara merata. Nah ini yang tentu menjadi PR kita,” tutur Destry, Jumat (4/9/2026). 

Kata Destry, kondisi ini salah satunya disebabkan oleh perkembangan intermediasi yang masih state-lead. Yakni, pertumbuhan masih didorong oleh pemerintah dan BUMN, termasuk Danantara.

Jika dilihat, pertumbuhan kredit Himbara memang melaju kencang dan utamanya didorong oleh kredit ke ekosistem pemerintah. 

Misalnya di Bank Mandiri, kredit ke ekosistem pemerintah dan BUMN melonjak 41,6% secara tahunan per Juni 2026 menjadi Rp 489 triliun. Di periode yang sama, kredit BNI ke BUMN naik hingga 63,2% secara tahunan menjadi Rp 197,8 triliun. 

Baca Juga: Dana SAL Keluar-Masuk Himbara, BI Pastikan Likuiditas Perbankan Aman

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News