BI Sebut Sentimen MSCI Picu Outflow, Saham hingga SBN dan SRBI Terdampak



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bank Indonesia (BI) mencermati adanya arus dana keluar alias outflow dari pasar Indonesia sejak penyedia indeks global MSCI mengumumkan pertimbangan menurunkan klasifikasi Indonesia menjadi pasar mandiri (standalone market).

Hal itu diungkapkan Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea. Menurutnya, sentimen yang timbul dari pengumuman MSCI membalik keadaan arus dana masuk (inflow) yang sudah sempat terjadi sebelumnya.

“Sejak akhir September sampai dengan pertengahan Oktober, arus masuk kita itu lumayan bagus. Cuman belakangan dengan adanya consultative paper dari MSCI, ini kelihatannya memang kita menghadapi arus keluar secara keseluruhan,” ujarnya saat taklimat media, dikutip Minggu (25/10/2026).


Erwin tak mengungkapkan rincian angkanya. Yang pasti, ia bilang outflow tak cuma terjadi di pasar saham, tetapi juga instrumen lainnya, termasuk Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Baca Juga: Meningkat, Return on Investment Dana Pensiun Mencapai 2,12% per Agustus 2026

Sebagai respons terhadap kondisi ini, BI memastikan ketersediaan likuiditas rupiah dalam jumlah yang cukup untuk memfasilitasi transaksi di pasar keuangan.

Erwin bilang pihaknya juga bakal mencermati dampak arus dana keluar terhadap pergerakan nilai tukar rupiah. Jika tekanan terhadap rupiah memicu volatilitas yang melampaui batas toleransi BI, bank sentral bakal merespons melalui operasi stabilisasi nilai tukar.

Ia bilang respons BI bakal disesuaikan dengan kondisi pasar. Jika pelaku pasar belum ingin merealisasikan transaksi valuta asing pada hari yang sama, BI dapat memfasilitasi lindung nilai melalui instrumen Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).

Sementara itu, apabila pelaku pasar ingin merealisasikan transaksi pada hari yang sama dan tekanan terhadap nilai tukar meningkat, BI dapat melakukan intervensi langsung di pasar valuta asing.

Baca Juga: OJK Sebut Perkembangan Teknologi Bawa Perubahan Signifikan terhadap Proses Pembiayaan

“Kalau masih bisa dengan DNDF, dalam pengertian mereka enggak mau keluar hari ini, ya cover dulu pakai DNDF hingga risiko nilai tukarnya aman. Tapi kalau mau keluar hari ini, ya kami masuk dengan intervensi,” jelas Erwin.

Meski rupiah sempat menembus level Rp 18.000 per dolar AS sebelumnya, Erwin menilai pergerakan nilai tukar sejauh ini masih dapat dikelola BI dan belum menunjukkan volatilitas yang berlebihan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News