KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Laporan terbaru Samuel Sekuritas Indonesia menekankan peran krusial Bank Indonesia (BI) dalam menjaga stabilitas moneter dan sistem keuangan nasional di tengah eskalasi perang Iran–Israel–Amerika Serikat yang mengguncang pasar global. Dalam laporan bertajuk Geopolitical Risk & Market Impact Assessment, Senior Macro Strategist Samuel Sekuritas, Fithra Faisal Hastiadi, merekomendasikan agar BI mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75% dan menghentikan sementara bias pelonggaran kebijakan. "BI perlu secara eksplisit mengomunikasikan penghentian sementara bias pelonggaran kebijakan," tulis Fithra dalam laporan tersebut, Rabu (4/3/2026).
Meski penurunan imbal hasil US Treasury mengurangi tekanan eksternal terhadap rupiah, risiko inflasi akibat lonjakan harga minyak menjadi faktor penyeimbang yang signifikan.
Baca Juga: Fitch Singgung Perluasan Mandat Bank Indonesia di Tengah Revisi Outlook Kredit Utang Jika harga minyak Brent menembus US$ 100 per barel selama lebih dari dua pekan, BI disarankan menyiapkan pasar untuk kemungkinan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin sebagai langkah antisipatif guna menjaga ekspektasi inflasi dan mempertahankan stabilitas rupiah. Fithra juga menyarankan BI mengintensifkan strategi triple intervention melalui pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan pasar obligasi pemerintah. Dengan cadangan devisa sekitar US$ 155 miliar, BI dinilai memiliki bantalan yang memadai. Namun, sinyal kehadiran melalui intervensi spot yang terlihat sejak awal pekan menjadi kunci untuk menambatkan ekspektasi pasar. Level Rp 17.000 per dolar AS disebut sebagai garis pertahanan lunak (soft defense line). Intervensi secara bertahap direkomendasikan jika rupiah bergerak melewati ambang tersebut guna mencegah depresiasi yang bersifat spekulatif. Kerentanan rupiah saat ini dinilai lebih dipicu oleh pembalikan arus modal dibandingkan masalah fundamental. Karena itu, BI disarankan meningkatkan kapasitas market-making di instrumen DNDF agar korporasi dan investor institusi memiliki saluran lindung nilai yang memadai.
Baca Juga: Subsidi BBM Jadi Prioritas di Tengah Krisis Timur Tengah, Ini Alasannya "Langkah ini dapat mengurangi potensi pergerakan valas yang tidak teratur akibat lonjakan permintaan lindung nilai yang dipicu kepanikan," katanya.
Dalam skenario tekanan lanjutan di pasar obligasi negara (SBN), BI juga disarankan mengaktifkan kembali skema pembelian SBN di pasar sekunder untuk menjaga stabilitas imbal hasil. Koordinasi burden sharing dengan Kementerian Keuangan, seperti yang dilakukan saat pandemi COVID-19, perlu disiagakan. Meski demikian, analisis menunjukkan pada fase awal konflik, permintaan safe haven domestik justru berpotensi menopang harga obligasi sehingga intervensi besar kemungkinan belum diperlukan pada pekan pertama. Namun, jika konflik berkepanjangan dan harga minyak melampaui US$ 100 per barel, risiko bear steepening pada kurva imbal hasil dapat muncul akibat lonjakan ekspektasi inflasi. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News