BI siap mengerek suku bunga lagi



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) belum ampuh membuat otot-otot rupiah menguat. Kemarin, mata uang garuda justru keok di hadapan dollar Amerika Serikat (AS), menembus level Rp 14.100.

Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menunjukkan, nilai tukar rupiah melemah ke Rp 14.107 per dollar AS, dari sehari sebelumnya di posisi Rp 14.074. Bahkan, pelemahan rupiah di pasar spot lebih dalam lagi, menjadi Rp 14.156 per dollar AS.

Memang, mengacu data Bloomberg, Jumat (18/5) hampir semua mata uang melemah terhadap dollar AS. Namun, nasib rupiah yang terburuk ketimbang mata uang negara lain. Dibanding sehari sebelumnya, rupiah melemah 0,7%, sementara pelemahan ringgit Malaysia hanya 0,06%, bath Thailand sebesar 0,32%, rupee India 0,5%, peso Philipina 0,05%, dong Vietnam 0,02%, serta real Brazil 0,61%.


Meski begitu, kalau ditarik dari awal tahun, nasib rupiah tidak buruk-buruk amat. Rupiah melemah 4,43%, sedangkan rupee melemah 6,5%, peso 4,93%, real 11,61%. Mata uang yang berhasil menguat sejak akhir 2017 hingga sekarang hanya kyat Myanmar sebesar 1,84% dan bath 1,14%.

Gubernur BI Agus Martowardojo menyatakan, pelemahan rupiah merupakan buah kombinasi dampak internal dan eksternal. Dari sisi internal, pasar mencermati neraca perdagangan negara kita yang mencatat defisit sebesar US$ 1,63 miliar pada April lalu, setelah bulan sebelumnya mencatat surplus sebanyak US$ 1,1 miliar.

"Kami pahami reaksi pelaku usaha karena melihat sinyal ekonomi membaik terkait persiapan Ramadan, sehingga ada tekanan terhadap rupiah," kata Agus, Jumat (18/5).

Dari sisi eksternal, tekanan rupiah berasal dari rencana kenaikan lanjutan suku bunga bank sentral AS, The Fed di tahun ini. Juga, kenaikan imbal hasil US Treasury yang telah melebihi level 3%.

Agus meyakinkan, BI tidak terlambat mengerek suku bunga acuan (behind the curve). Bahkan, bank sentral tidak ragu untuk megambil langkah yang lebih kuat untuk menjaga stabilitas makroekonomi. Termasuk, menaikkan kembali BI-7 day reverse repo rate. "Kalau kondisi mengharuskan untuk kami kembali melakukan penyesuaian policy rate, kami tidak ragu untuk melakukan," tegasnya.

Menjaga ekonomi

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menambahkan, pemerintah dan BI akan terus mencermati perkembangan yang terjadi pada dollar AS. Soalnya, mata uang negeri Paman Sam bakal terus mengalami pergerakan menyusul normalisasi kebijakan AS di bawah Pemerintahan Donald Trump. Karena itu, "Pemerintah akan terus menjaga pondasi ekonomi Indonesia sisi APBN," ujar Sri Mulyani.

Sejauh ini, kinerja APBN dari sisi perpajakan dan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) meningkat signifikan, sementara belanja negara tetap terjaga. Sehingga, defisit anggaran bisa terus terjaga sesuai Undang-Undang APBN 2018, yakni sebesar Rp 325,9 triliun atau 2,19% dari produk domestik bruto (PDB).

Sri Mulyani bilang, BI memiliki bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas makroekonomi. "Kami bersama-sama akan menjaga perekonomian Indonesia. Dengan fondasi makin kuat, kami akan tetap jaga supaya ekonomi dan pembagunan tidak terganggu," tambah Sri Mulyani.

Pemerintah ingin membuat perekonomian dalam negeri dan rupiah terus kompetitif. Masyarakat dan dunia usaha bisa melakukan aktivitas dan penyesuaian dengan tidak menimbulkan gejolak.

Namun, menurut Kepala Ekonom Bank Mandiri Anton Gunawan, ekspektasi inflasi juga meningkat sejalan dengan kenaikan harga minyak mentah dunia. Ia memperkirakan, laju inflasi hingga akhir tahun sebesar 4% secara year on year (yoy), meski di April 2018 masih 3,4% yoy.

Untuk itu, Anton menyarankan, BI harus mencegah agar Indonesia tidak seperti Filipina yang tingkat suku bunga negatif (negative interest rate)-nya besar, sehingga bisa menjadi potensi risiko bagi investor. Guna mencegah hal itu, BI memang perlu menaikkan suku bunga acuan kembali pada kuartal ketiga.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Wahyu T.Rahmawati