BI Tahan Suku Bunga Acuan 4,75%, Begini Prospek Kinerja Emiten Properti Tahun 2026



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emiten properti diperkirakan masih mendapatkan katalis dari era suku bunga rendah Bank Indonesia (BI), meskipun belum secara signifikan.

Asal tahu saja, Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk menahan suku bunga di level 4,75% di Rapat Dewan Gubernur (RDG) perdana di tahun 2026 pada hari Rabu (21/1/2026).

Analis Fundamental BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand melihat, penahanan suku bunga BI di level 4,75% memberikan dampak cenderung netral-positif ke emiten sektor properti.


Sebab, penahanan suku bunga BI bisa menjaga stabilitas bunga kredit pemilikan rumah (KPR) dan membantu menjaga minat beli, meskipun belum cukup kuat untuk mendorong akselerasi signifikan.

“Dengan tekanan rupiah dan daya beli yang masih terbatas, ruang penurunan suku bunga masih ada, namun kemungkinan dilakukan secara bertahap, sehingga pemulihan sektor properti diperkirakan berlangsung gradual sepanjang 2026,” ujarnya kepada Kontan, Rabu (21/1).

Equity Research Analyst OCBC Sekuritas, Gani mengatakan, terdapat kemungkinan BI akan melakukan pemangkasan suku bunga yang bisa terjadi dua kali di tahun 2026.

Baca Juga: IHSG Berpeluang Tertekan, Cermati Saham Rekomendasi Analis pada Kamis (22/1)

“Tapi harapannya (penurunan suku bunga BI) bisa lebih diterjemahkan ke biaya, terutama bunga KPR yang mulai bisa diharapkan turun,” ujarnya saat ditemui Kontan beberapa waktu lalu.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan, penahanan dan penurunan suku bunga tak mampu untuk menopang kinerja emiten properti.

“Sektor properti dinilai butuh juga kebijakan prudensial yang bisa mendorong daya beli masyarakat, seperti insentif,” ujarnya kepada Kontan, Rabu.

Jika dilihat dari pergerakan indeks sektoral, IDX Properties & Real Estate sejak awal tahun 2026 memang tercatat naik 7,13% year to date (YTD).

Namun, sejumlah saham emiten properti besar juga tercatat tak bergairah hari ini. Saham PT Ciputra Development Tbk (CTRA) hari ini turun 4,89% dari penutupan hari kemarin (20/1) ke level Rp 875 per saham.

Saham PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) dan PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) masing-masing turun 1,99% hari ini ke level Rp 394 per saham dan 0,53% ke Rp 940 per saham. Sementara, PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) harganya stagnan di Rp 370 per saham.

Dengan harga saham emiten properti besar yang turun itu, Gani optimistis justru tersedia ruang pertumbuhan di tahun 2026. “Valuasinya sudah turun selama 2025, sehingga ada kesempatan untuk saham properti di tahun ini,” ungkapnya.

Ke depan, insentif PPN DTP diharapkan bisa membuat kinerja sektor properti di tahun 2026 lebih baik dari tahun lalu. Perpanjangan insentif ini yang bisa sampai tahun 2027 bisa membuat para pengembang lebih bebas dalam membangun dan menjual rumah ready stock.

“Kebijakan PPN DTP yang lebih panjang jangka waktunya bisa membuat rumah-rumah baru mereka lebih leluasa untuk diikutsertakan, dengan catatan harus serah terima sebelum tahun 2027,” tuturnya.

Baca Juga: IHSG Berpotensi Lanjut Terkoreksi pada Hari Kamis (22/1), Cek Rekomendasi Sahamnya

Kondisi itu bahkan bisa menjadi obat penawar bagi kemungkinan penurunan translasi kinerja pendapatan emiten properti yang bisa turun di tahun 2026 lantaran lesunya tren pendapatan prapenjualan (marketing sales) di tahun lalu.

Lesunya marketing sales di tahun lalu juga dilihat Gani sebagai low base yang bisa menjadi pendorong pemulihan permintaan di tahun 2026 dan hingga beberapa tahun ke depan.

“Akan ada sedikit fluktuasi dalam 1-2 tahun ke depan, mungkin akan terefleksi di tahun 2027. Di tahun 2026 masih aman saja dari booking revenue,” ungkapnya.

Sementara, Abida melihat bahwa selain dari suku bunga, sentimen positif untuk sektor properti sepanjang tahun 2026 juga berasal dari insentif PPN DTP dan kebutuhan hunian struktural.

Sementara sentimen negatif mencakup lemahnya daya beli, marketing sales 2025 yang lesu, serta biaya konstruksi yang masih tinggi.

Pelemahan penjualan tahun lalu berpotensi menekan pendapatan emiten properti di tahun 2026. “Namun segmen hunian tetap menjadi penopang utama, dengan sebagian emiten mulai mengandalkan recurring income dari properti komersial untuk menjaga stabilitas kinerja,” tuturnya.

Valuasi saham emiten properti saat ini juga dinilai Abida masih relatif murah dibandingkan nilai aset dan rata-rata historisnya. Hal ini pun mencerminkan ekspektasi pasar yang konservatif terhadap pemulihan sektor.

“Jika realisasi handover dan penjualan membaik, kinerja fundamental dan harga saham berpotensi kembali lebih selaras ke depan,” paparnya.

Nico melihat, segmen rumah tapak merupakan salah satu aset yang menopang kinerja emiten properti di tahun ini, tetapi lebih fokus ke produk berharga rendah yang juga terkena insentif PPN DTP.

Alhasil, emiten properti besar dengan aset mewah lebih akan fokus pada segmen pendapatan berulang alias recurring income untuk menjaga arus kas.

Baca Juga: IHSG Berpeluang Rebound, Simak Support-Resist dan Saham Pilihan Kamis (22/1)

“Namun, dengan ekspektasi penurunan tingkat suku bunga yang bisa meningkatkan konsumsi dan daya beli, pertumbuhan kinerja sektor properti seharusnya akan lebih inline di tahun ini,” tuturnya.

Gani merekomendasikan beli untuk CTRA dan SMRA dengan target harga masing-masing Rp 1.035 per saham dan Rp 480 per saham.

Abida merekomendasikan beli untuk BSDE dengan target harga Rp 1.450 per saham, CTRA Rp 1.600 per saham, PWON Rp 640 per saham, dan SMRA Rp 800 per saham.

Nico merekomendasikan beli untuk BSDE, SMRA, dan CTRA dengan target harga masing-masing Rp 1.240 per saham, Rp 570 per saham, dan Rp 1.300 per saham.

Selanjutnya: Wyndham Culinary Journey Tawarkan 10 Kuliner Nusantara nan Menggoda

Menarik Dibaca: Wyndham Culinary Journey Tawarkan 10 Kuliner Nusantara nan Menggoda

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News