KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank Indonesia (BI) memutuskan mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate di level 4,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung pada 16–17 Maret 2026. Keputusan ini mencerminkan sikap hati-hati otoritas moneter di tengah dinamika pasar keuangan global dan tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Sebelumnya, rupiah sempat melemah di kisaran Rp16.850–Rp17.000 per dolar Amerika Serikat. Customer Engagement & Market Analyst Department Head BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), Chory Agung Ramdhani, menilai kondisi pasar saat ini masih berada dalam fase wait and see. Investor cenderung menahan diri sambil mencermati arah kebijakan moneter ke depan.
IHSG Masih Dibayangi Tekanan, Rebound Terbatas
Secara teknikal, IHSG sempat dibuka menguat (gap up), namun gagal menembus area resistance di kisaran 7.135–7.150. Hal ini menunjukkan tekanan jual masih cukup kuat di pasar. Pola serupa juga terjadi pada awal Maret, di mana penguatan di awal sesi tidak berlanjut dan berakhir dengan koreksi. Dari sisi indikator, MACD memang menunjukkan golden cross di area negatif—mengindikasikan peluang rebound teknikal. Namun demikian, sinyal tersebut belum cukup kuat untuk mengonfirmasi pembalikan tren. Kenaikan indeks sejauh ini juga lebih banyak ditopang oleh saham sektor energi dengan volume perdagangan yang relatif rendah, menandakan partisipasi pasar masih terbatas. Baca Juga: Kinerja INCO 2025 Moncer, Laba Bersih Melonjak 31,68% di Tengah Tekanan Operasional Selama IHSG belum mampu menembus level 7.150, pergerakan indeks diperkirakan masih berada dalam fase rebound terbatas dengan potensi kembali tertekan. Chory mengungkapkan level teknikal penting IHSG sebagai berikut:- Support: 7.000 – 6.950
- Resistance: 7.135 – 7.150
- Target rebound lanjutan: 7.200 – 7.250 (jika tembus 7.150)
Arus Dana Asing Masih Sensitif
Chory menambahkan, kebijakan suku bunga tetap menjadi faktor kunci dalam menentukan daya tarik aset domestik di mata investor global, terutama melalui mekanisme yield spread. Stabilitas nilai tukar rupiah juga menjadi faktor krusial. Selama BI mampu menjaga stabilitas melalui instrumen seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), arus dana asing diperkirakan tetap bertahan di pasar domestik. Selain itu, jika BI mempertahankan suku bunga di level 4,75% sementara bank sentral global mulai melonggarkan kebijakan moneter, maka aset Indonesia—baik saham maupun obligasi—akan semakin kompetitif. Baca Juga: BI Tahan Suku Bunga 4,75%, IHSG Berpotensi Sideways di Tengah Tekanan GlobalRekomendasi Saham Pilihan
Berdasarkan kondisi fundamental dan sentimen pasar saat ini, berikut sejumlah saham yang direkomendasikan:- PT Bukit Asam Tbk (PTBA) — Buy, target harga Rp3.100
- PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) — Buy, target harga Rp27.300
- PT Mayora Indah Tbk (MYOR) — Buy, target harga Rp2.700
- PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) — Buy, target harga Rp11.500
- PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) — Buy, target harga Rp325
- PT Jasa Marga Persero Tbk (JSMR) — Buy, target harga Rp4.750