BI Tambah Amunisi Jaga Rupiah, Perluas Kerja Sama Swap dengan China



KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Bank Indonesia (BI) terus memperkuat pertahanan rupiah di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.

Salah satu langkah yang ditempuh adalah memperbesar cadangan likuiditas valuta asing melalui kerja sama bilateral currency swap arrangement (BCSA) dengan sejumlah bank sentral mitra.

Komitmen tersebut kembali ditegaskan dalam pertemuan tingkat tinggi di Shanghai, China, Kamis (11/6/2026).


Baca Juga: Kebijakan BI Sudah Tepat Jaga Rupiah, BI Rate Masih Berpeluang Naik Lagi

Gubernur BI Perry Warjiyo dan Gubernur People's Bank of China (PBOC) Pan Gongsheng sepakat menjajaki peningkatan nilai BCSA antara kedua bank sentral.

Meski demikian, BI belum mengungkapkan besaran nilai kerja sama yang tengah dibahas.

BCSA merupakan skema kerja sama yang memungkinkan dua bank sentral saling menukar mata uang masing-masing dalam jumlah dan periode tertentu.

Fasilitas ini dapat digunakan untuk memperkuat likuiditas valas ketika pasar keuangan menghadapi tekanan.

Kerja sama BCSA antara BI dan PBOC telah berlangsung sejak Maret 2009 dan terakhir diperbarui pada Januari 2022 dengan nilai mencapai 250 miliar yuan.

Baca Juga: Xi Jinping dan Kim Jong Un Sepakat Perkuat Kerja Sama Politik, Ekonomi, dan Budaya

Selain China, BI juga memiliki perjanjian serupa dengan sejumlah bank sentral lain, antara lain Bank of Korea senilai 10,7 triliun won, Reserve Bank of Australia senilai A$10 miliar, serta Bank of Japan senilai US$22,76 miliar.

Jaringan pengaman likuiditas BI juga diperkuat melalui berbagai skema kerja sama lainnya.

Pada 2024, BI dan Monetary Authority of Singapore (MAS) memperpanjang local currency bilateral swap agreement (LCBSA) senilai S$ 9,5 miliar serta bilateral repo agreement (BRA) senilai US$3 miliar atau mata uang yen maupun euro dengan nilai setara.

Sebelumnya, pada 2020, BI juga memperoleh akses likuiditas dolar AS melalui kerja sama repurchase agreement line (repo line) dengan bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed), senilai US$60 miliar.

Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menilai perluasan BCSA dapat menjadi bantalan tambahan jika tekanan di pasar valuta asing meningkat.

Namun, ia menekankan bahwa instrumen tersebut bukan alat utama untuk menjaga pergerakan rupiah sehari-hari seperti intervensi valas yang biasa dilakukan BI.

Baca Juga: BI Kerek Suku Bunga ke 5,5% dan Siapkan 4 Jurus Tambahan untuk Jaga Rupiah

“Dalam kondisi sekarang, BCSA boleh saja disiapkan atau bahkan digunakan secara terbatas apabila tekanan likuiditas valas meningkat tajam, tetapi komunikasinya harus hati-hati,” ujar Josua.

Menurutnya, fungsi utama BCSA adalah sebagai jaring pengaman yang menyediakan akses likuiditas dalam mata uang negara mitra, memperkuat kepercayaan pasar terhadap kemampuan BI menghadapi gejolak, mendukung transaksi perdagangan dan investasi menggunakan mata uang lokal, serta mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dalam transaksi bilateral.

Dengan rencana peningkatan nilai swap bersama China dan jaringan kerja sama yang telah dimiliki dengan berbagai bank sentral dunia, BI berupaya memastikan ketersediaan amunisi likuiditas tetap memadai untuk menjaga stabilitas pasar keuangan dan ketahanan rupiah saat gejolak global meningkat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News