KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bank Indonesia (BI) memperkuat strategi untuk menarik kembali aliran modal asing (inflow) ke pasar keuangan domestik menyusul pernyataan
Morgan Stanley Capital International (MSCI) soal pasar saham Indonesia yang turut menjadi perhatian otoritas. Untuk diketahui, baru-baru ini MSCI membuka konsultasi untuk mengevaluasi klasifikasi pasar saham Indonesia dari
emerging market menjadi
standalone market menjadi salah satu isu yang membayangi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Deputi Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti mengatakan, BI terus melakukan asesmen terhadap dampak perkembangan MSCI terhadap pasar keuangan domestik, termasuk pergerakan nilai tukar rupiah dan arus modal asing.
Destry mengakui, rupiah memang sempat mengalami tekanan selama dua hari setelah perkembangan tersebut. Namun, BI menilai tekanan yang terjadi masih relatif normal, terlebih kondisi pasar keuangan regional juga sedang menghadapi tekanan.
Baca Juga: BI Perkuat Insentif Lindung Nilai, Modal Asing Masuk US$ 9,9 Miliar “Kami masih melihat bahwa tekanannya masih relatif dalam batas yang cukup normal. Karena pada saat yang bersamaan juga regional kondisinya lagi tidak terlalu baik,” ujar Destry dalam konferensi pers, Rabu (21/10/2026). Meski demikian, BI tetap mewaspadai perkembangan di pasar modal domestik dan memantau arus modal keluar (
outflow) yang terjadi setelah isu MSCI mencuat. Menurut Destry, kondisi tersebut mendorong BI untuk mengoptimalkan kebijakan yang lebih terarah guna menarik kembali aliran modal asing. Destry menegaskan, stabilitas nilai tukar rupiah tetap menjadi prioritas utama BI. Di sisi lain, BI juga berupaya menjaga momentum pertumbuhan ekonomi agar tetap berlanjut. Untuk menjaga stabilitas, BI menilai tekanan inflasi saat ini terutama bersumber dari kelompok pangan bergejolak (
volatile food). Sementara itu, inflasi inti masih terkendali pada level 2,84%. Ia juga menyebutkan, kenaikan suku bunga sebesar total 100 basis poin pada Mei dan Juni telah membantu menjaga ekspektasi inflasi tetap berada dalam sasaran BI. Penyesuaian suku bunga tersebut juga telah mendorong penilaian ulang harga sejumlah aset keuangan domestik atau
repricing. Baca Juga: BI Prediksi Transaksi Berjalan 2026 Defisit hingga 2,4% dari PDB Akhir 2026 Dengan kondisi tersebut, BI kini berfokus memperbesar daya tarik aset keuangan domestik agar dapat kembali menarik minat investor asing. Salah satu langkah yang ditempuh adalah mengoptimalkan insentif bagi investor yang menempatkan dana pada instrumen keuangan Indonesia, termasuk Surat Berharga Negara (SBN), Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), serta instrumen investasi dan pendanaan lainnya. Destry menjelaskan, BI memberikan insentif berupa pengurangan biaya lindung nilai (
hedging) melalui instrumen Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) hingga 45%. Menurut dia, kebijakan insentif yang mulai diterapkan sejak Juni hingga Oktober, baik melalui instrumen swap maupun DNDF, telah berhasil mendatangkan aliran modal masuk sebesar US$ 9,9 miliar hingga saat ini. BI berharap, kombinasi penyesuaian harga aset keuangan domestik dan peningkatan insentif lindung nilai dapat membuat imbal hasil aset Indonesia relatif lebih menarik dibandingkan aset dalam denominasi dolar AS. “Ini yang kami lakukan untuk saat ini. Kami fokus dan
targeted bagaimana kita mendatangkan
inflow tersebut,” katanya. Selain insentif lindung nilai, BI juga mengoptimalkan kebijakan likuiditas melalui penurunan giro wajib minimum (GWM) hingga 2%. Kebijakan tersebut diperkirakan memberikan tambahan likuiditas sekitar Rp 190 triliun.
Baca Juga: BI: Ekspor Nonmigas Perlu Dioptimalkan Ditengah Momentum Kenaikan Harga Komoditas Lebih rinci, BI menurunkan Giro Wajib Minimum (GWM) untuk Bank Umum Konvensional (BUK) diturunkan dari 9% menjadi 7%, dengan tahapan, turun sebesar 1% dari 9% menjadi 8% berlaku mulai 1 November 2026. Kemudian, turun sebesar 1% dari 8% menjadi 7% berlaku mulai 1 Desember 2026. Destry menambahkan, seluruh instrumen kebijakan yang dimiliki BI akan dioptimalkan untuk menjaga stabilitas sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi. “Stabilitas itu tentunya yang utama. Kemudian yang kedua kita lihat juga di sini ada momentum pertumbuhan sehingga ini juga tentu harus bisa kita dorong juga,” tandasnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News