KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengatakan, tekanan terhadap rupiah tidak bisa hanya direspons melalui kenaikan suku bunga. Pasalnya, BI melihat masih terdapat persoalan fundamental dan struktural dalam perekonomian yang turut memberikan tekanan terhadap nilai tukar. Untuk diketahui, nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pada perdagangan pagi ini, rupiah bergerak mendekati level Rp 18.000 per dolar AS, yakni sekitar Rp 17.963 per dolar AS. Destry mengatakan, kondisi ekonomi Indonesia saat ini masih bergerak di bawah level potensial atau masih mengalami output gap negatif. Dengan kondisi tersebut, BI menilai masih terdapat ruang bagi pertumbuhan ekonomi tanpa menimbulkan tekanan inflasi yang berlebihan. Baca Juga: Kemenhut Catat Lonjakan Hotspot Karhutla, Kalimantan Tengah Capai 134 Titik "Kenapa kami juga tidak menaikkan suku bunga? Karena kami melakukan assessment bahwa ekonomi kita ini masih bergerak di bawah potensial levelnya, atau output gap-nya masih negatif," ujar Destry dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI, Senin (28/9/2026). Menurut dia, kenaikan suku bunga justru berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi. Berdasarkan assessment BI, kenaikan BI Rate sebesar 25 basis poin dapat menurunkan pertumbuhan ekonomi sekitar 0,1%. Karena itu, BI memilih menggunakan sejumlah instrumen kebijakan lain untuk menjaga stabilitas rupiah sekaligus tetap menopang pertumbuhan ekonomi. Salah satunya melalui pemberian insentif biaya lindung nilai atau hedging cost bagi aliran dana masuk ke Indonesia. Destry mengatakan, kebijakan tersebut mulai menunjukkan hasil. Dalam sekitar satu bulan sejak diberlakukan, BI telah melihat aliran dana masuk sekitar US$ 6 miliar melalui instrumen swap maupun DNDF (Deliverable Non-Deliverable Forward). Namun demikian, Destry menegaskan bahwa tekanan terhadap rupiah masih ada. Menurutnya, kondisi tersebut tidak terlepas dari sejumlah persoalan fundamental dan struktural, terutama yang berkaitan dengan sektor eksternal. "Kalau intervensi sebesar-besarnya, tapi kalau sektor eksternal kita juga masih lemah, itu akan berat," katanya. Untuk itu, BI bersama pemerintah melalui koordinasi dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) terus membahas upaya memperkuat sektor eksternal, termasuk melalui program peningkatan ekspor serta mendorong investasi, baik investasi langsung maupun investasi portofolio. Di sisi lain, faktor eksternal juga turut menjadi sumber tekanan terhadap rupiah. Kondisi pasar global dan pergerakan dolar AS dapat memperbesar tekanan terhadap nilai tukar, sehingga kebijakan stabilisasi tidak cukup hanya mengandalkan intervensi di pasar valuta asing. Destry menjelaskan, BI kini juga berupaya mengurangi penggunaan intervensi spot yang dinilai lebih mahal. Saat ini, porsi intervensi melalui spot hanya sekitar 30% dari total intervensi BI, sementara sisanya dilakukan melalui instrumen seperti DNDF (Deliverable Non-Deliverable Forward) dan NDF (Non Deliverable Forward). "Intervensi yang mahal itu melalui spot. Sekarang jumlahnya sudah tinggal sekitar 30% dari total intervensi yang kami lakukan," jelasnya. BI juga terus memperluas penggunaan instrumen hedging untuk mendorong inflow. Insentif tersebut tidak hanya diberikan untuk investasi portofolio, tetapi juga dapat digunakan untuk underlying berupa pinjaman luar negeri yang kemudian dimanfaatkan untuk kredit atau investasi, termasuk foreign direct investment (FDI). Meski demikian, Destry menekankan bahwa kebijakan insentif hedging tersebut bersifat sementara dan akan terus dievaluasi berdasarkan perkembangan data serta dampaknya terhadap perekonomian secara keseluruhan. Dengan demikian, penguatan rupiah tidak hanya bergantung pada kebijakan moneter BI, tetapi juga membutuhkan perbaikan fundamental ekonomi, khususnya penguatan sektor eksternal melalui peningkatan ekspor dan investasi, di tengah tekanan dari kondisi ekonomi global.
BI Ungkap Penyebab Rupiah Tertekan, dari Fundamental hingga Faktor Eksternal
KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengatakan, tekanan terhadap rupiah tidak bisa hanya direspons melalui kenaikan suku bunga. Pasalnya, BI melihat masih terdapat persoalan fundamental dan struktural dalam perekonomian yang turut memberikan tekanan terhadap nilai tukar. Untuk diketahui, nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pada perdagangan pagi ini, rupiah bergerak mendekati level Rp 18.000 per dolar AS, yakni sekitar Rp 17.963 per dolar AS. Destry mengatakan, kondisi ekonomi Indonesia saat ini masih bergerak di bawah level potensial atau masih mengalami output gap negatif. Dengan kondisi tersebut, BI menilai masih terdapat ruang bagi pertumbuhan ekonomi tanpa menimbulkan tekanan inflasi yang berlebihan. Baca Juga: Kemenhut Catat Lonjakan Hotspot Karhutla, Kalimantan Tengah Capai 134 Titik "Kenapa kami juga tidak menaikkan suku bunga? Karena kami melakukan assessment bahwa ekonomi kita ini masih bergerak di bawah potensial levelnya, atau output gap-nya masih negatif," ujar Destry dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI, Senin (28/9/2026). Menurut dia, kenaikan suku bunga justru berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi. Berdasarkan assessment BI, kenaikan BI Rate sebesar 25 basis poin dapat menurunkan pertumbuhan ekonomi sekitar 0,1%. Karena itu, BI memilih menggunakan sejumlah instrumen kebijakan lain untuk menjaga stabilitas rupiah sekaligus tetap menopang pertumbuhan ekonomi. Salah satunya melalui pemberian insentif biaya lindung nilai atau hedging cost bagi aliran dana masuk ke Indonesia. Destry mengatakan, kebijakan tersebut mulai menunjukkan hasil. Dalam sekitar satu bulan sejak diberlakukan, BI telah melihat aliran dana masuk sekitar US$ 6 miliar melalui instrumen swap maupun DNDF (Deliverable Non-Deliverable Forward). Namun demikian, Destry menegaskan bahwa tekanan terhadap rupiah masih ada. Menurutnya, kondisi tersebut tidak terlepas dari sejumlah persoalan fundamental dan struktural, terutama yang berkaitan dengan sektor eksternal. "Kalau intervensi sebesar-besarnya, tapi kalau sektor eksternal kita juga masih lemah, itu akan berat," katanya. Untuk itu, BI bersama pemerintah melalui koordinasi dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) terus membahas upaya memperkuat sektor eksternal, termasuk melalui program peningkatan ekspor serta mendorong investasi, baik investasi langsung maupun investasi portofolio. Di sisi lain, faktor eksternal juga turut menjadi sumber tekanan terhadap rupiah. Kondisi pasar global dan pergerakan dolar AS dapat memperbesar tekanan terhadap nilai tukar, sehingga kebijakan stabilisasi tidak cukup hanya mengandalkan intervensi di pasar valuta asing. Destry menjelaskan, BI kini juga berupaya mengurangi penggunaan intervensi spot yang dinilai lebih mahal. Saat ini, porsi intervensi melalui spot hanya sekitar 30% dari total intervensi BI, sementara sisanya dilakukan melalui instrumen seperti DNDF (Deliverable Non-Deliverable Forward) dan NDF (Non Deliverable Forward). "Intervensi yang mahal itu melalui spot. Sekarang jumlahnya sudah tinggal sekitar 30% dari total intervensi yang kami lakukan," jelasnya. BI juga terus memperluas penggunaan instrumen hedging untuk mendorong inflow. Insentif tersebut tidak hanya diberikan untuk investasi portofolio, tetapi juga dapat digunakan untuk underlying berupa pinjaman luar negeri yang kemudian dimanfaatkan untuk kredit atau investasi, termasuk foreign direct investment (FDI). Meski demikian, Destry menekankan bahwa kebijakan insentif hedging tersebut bersifat sementara dan akan terus dievaluasi berdasarkan perkembangan data serta dampaknya terhadap perekonomian secara keseluruhan. Dengan demikian, penguatan rupiah tidak hanya bergantung pada kebijakan moneter BI, tetapi juga membutuhkan perbaikan fundamental ekonomi, khususnya penguatan sektor eksternal melalui peningkatan ekspor dan investasi, di tengah tekanan dari kondisi ekonomi global.