Biasakan berinvestasi sejak kecil



JAKARTA. Biasakan diri berinvestasi sejak dini. Itulah nasihat dari orangtua yang selalu diingat oleh Hario Soeprabo, Head of First Investment Indonesia.

Hario kecil memang sudah mengenal berinvestasi. Kedua orangtuanya memperkenalkan berinvestasi lewat tabungan sejak Hario duduk di Sekolah Dasar (SD). Uang jajan yang ia peroleh dari orangtua, sebagian ditabung di Tabungan Pembangunan Nasional (Tabanas). "Waktu itu jenis tabungan ini sangat populer," kenangnya.

Dari ajaran orangtua inilah, pria yang mengaku berasal dari keluarga kurang mampu ini sudah terbiasa menyisihkan uang jajannya untuk ditabung. Hingga menginjak Sekolah Menengah Pertama (SMP), Hario telah berhasil mengumpulkan tabungan di bank sebesar Rp 800.000. “Hal yang paling menyenangkan saat itu adalah ketika saya melihat jumlah tabungan bertambah karena mendapatkan bunga,” ujarnya.


Karena itu, Hario pun semakin rajin menabung. Kesadarannya berinvestasi semakin tinggi ketika ia kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI). Dia banyak belajar mengenai berbagai macam produk investasi dan manfaatnya.

Setelah lulus kuliah dan bekerja di sebuah bank yang waktu itu masih bernama Bank Niaga pada 1990, ia semakin melek investasi. Tak hanya tabungan dan deposito, Hario pun mengerti tentan investasi fixed asset seperti rumah dan tanah. Ia juga makin mengenal produk investasi seperti obligasi, saham, reksadana, dan emas.

Harus disiplin

Ia sudah merasakan sendiri manfaatnya. Contoh saja ketika ia berkarir New York, Amerika Serikat (AS). Gaji yang ia terima dalam dollar AS, sebagian ia simpan. Ketika krisis moneter melanda Indonesia tahun 1997-1998, Hario merasa beruntung karena meyimpan dollar AS. Betapa tidak, nilai tukar dollar AS terhadap rupiah kala itu melambung tinggi. Ia mendapat keuntungan dari selisih nilai tukar kala itu.

Walaupun begitu, Hario mengaku tidak berminat menyimpan valuta asing untuk investasi. Sebagai investor bertipe konservatif, ia lebih memilih investasi tradisional seperti fixed asset. Menurut dia, aset seperti rumah dan tanah merupakan aset investasi yang paling aman.

Selain itu, Hario juga mengembangkan investasinya ke produk lain seperti saham dan reksadana. Pengalaman pertamanya berinvestasi saham adalah ketika PT Unilever menerbitkan saham perdana alias initial public offering (IPO) pada 1980an.

Selama 23 tahun berkarier di bank, Hario juga belajar untuk berhati-hati dalam berinvestasi. Kembali pada didikan orangtuanya, Hario diajarkan supaya tidak sembrono dalam melakukan sesuatu. Hal itu yang dia terapkan hingga saat ini, termasuk dalam hal berinvestasi.

Bagi Hario, berinvestasi tidak ada yang merugikan, sepanjang mengerti caranya. Jika berinvestasi untuk dana pendidikan, Hario menyarankan supaya berinvestasi dalam bentuk deposito atau obligasi, karena resikonya yang lebih kecil.

Namun, bila untuk persiapan pensiun, dia menganjurkan untuk berinvestasi dalam bentuk saham, obligasi. "Jika berinvestasi saham untuk jangka pendek, tentu bisa rugi. Namun jika untuk investasi jangka panjang, investor akan memperoleh keuntungan," ujarnya.

Dari sejumlah produk investasi yang telah ia miliki, rumah dan tanah menjadi investasi favoritnya. Pada 1983, dia mulai mencicil rumah melalui cicilan di Bank Tabungan Negara (BTN). Hingga kini, Hario telah memiliki rumah yang ia dihuni sendiri maupun disewakan kepada orang lain.

Ia berprinsip, dalam berinvestasi kuncinya adalah harus sabar, tidak boleh tergesa-gesa dan jangan serakah. Namun yang paling penting adalah disiplin.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Rizki Caturini