Biaya Avtur dan Spare Part Melonjak, Maskapai RI Genjot Efisiensi



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Maskapai penerbangan nasional menghadapi tantangan menjaga kinerja di tengah tingginya biaya operasional dan trafik penumpang domestik yang belum sepenuhnya kembali ke level sebelum pandemi.

Efisiensi menjadi salah satu strategi yang didorong industri, terutama melalui pengendalian konsumsi avtur, biaya suku cadang, serta optimalisasi rute penerbangan.


Ketua Umum Indonesia National Air Carriers Association (INACA) Denon Prawiraatmadja mengatakan avtur dan suku cadang pesawat menjadi komponen biaya yang perlu mendapat perhatian untuk meningkatkan efisiensi operasi maskapai.

Menurut Denon, INACA saat ini mengawal implementasi kebijakan pembebasan biaya masuk suku cadang pesawat. Asosiasi juga telah melakukan pembahasan dengan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai terkait Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 16 Tahun 2026 mengenai pembebasan bea masuk sejumlah suku cadang.

“Kami berharap komponen biaya, baik avtur maupun beberapa spare part, bisa menjadi bagian dari penurunan biaya operasional maskapai,” ujar Denon saat media gathering bersama forwahub, Jumat (2/10/2026).

Baca Juga: Upaya Agrinas Palma Bangun Tata Kelola Bisnis Berkelanjutan

Dia menjelaskan, pelaksanaan kebijakan tersebut masih menunggu aturan teknis dari Kementerian Keuangan. INACA berharap pembebasan bea masuk suku cadang dapat segera diterapkan sehingga memberikan ruang bagi maskapai untuk menekan biaya operasional.

Harga Avtur Jadi Perhatian Maskapai

Selain suku cadang, harga avtur masih menjadi salah satu tantangan utama industri penerbangan. Denon mengatakan pergerakan harga energi yang turut dipengaruhi kondisi geopolitik berpotensi kembali meningkatkan beban biaya maskapai.

Oleh karena itu, periode puncak Natal dan Tahun Baru (Nataru) diharapkan dapat meningkatkan utilisasi armada sekaligus membantu memperbaiki kinerja perusahaan penerbangan.

“Kami berharap dengan adanya peak season Nataru ini bisa memperbaiki kondisi yang sekarang ini mungkin cukup berat bagi maskapai, apalagi semua komponen biaya ini cukup meningkat,” katanya.

Tekanan biaya tersebut mendorong maskapai mencari sumber efisiensi dari kegiatan operasional penerbangan. Namun, upaya tersebut tetap harus dilakukan tanpa mengurangi standar keselamatan penerbangan.

Direktur Safety Pelita Air Eriza Muslim mengatakan bahan bakar memiliki porsi yang besar dalam struktur biaya operasional maskapai. Oleh sebab itu, optimalisasi penggunaan avtur menjadi salah satu langkah yang dapat dilakukan untuk meningkatkan efisiensi.

Pelita Air, menurut Eriza, mendorong optimalisasi prosedur penerbangan, antara lain melalui continuous descent operation (CDO) dan pengaturan kecepatan pesawat untuk menekan konsumsi bahan bakar.

“Dengan adanya safety culture, kita tidak mengurangi standar yang sudah diberikan di safety,” ujar Eriza.

Baca Juga: Auri Steel Bidik Ekspor Baja Ringan ke Australia hingga 6.000 Ton per Tahun

Selain optimalisasi operasional pesawat, pengembangan sistem navigasi juga dinilai dapat membuka peluang efisiensi melalui pemilihan rute penerbangan yang lebih efektif.

Teknologi Navigasi Buka Ruang Efisiensi

Direktur Keamanan, Keselamatan dan Standardisasi AirNav Indonesia Capt Nurtjahjo Utomo mengatakan perkembangan teknologi navigasi memungkinkan penerapan user preferred route.

Melalui konsep tersebut, pesawat dapat menggunakan rute yang lebih langsung dibandingkan jalur konvensional. Dengan jarak tempuh yang lebih pendek, konsumsi bahan bakar dan waktu penerbangan berpotensi ikut berkurang.

“Dengan alat yang baru ini sebenarnya kita mempunyai kemampuan untuk menggunakan user preferred route, jadi pesawat itu boleh terbang lurus, tidak lewat jalur yang konvensional,” jelasnya.

Saat ini, penerapan konsep tersebut masih dilakukan secara bertahap pada penerbangan internasional. AirNav masih melakukan pematangan prosedur dan evaluasi sebelum penerapan diperluas ke penerbangan domestik.

Nurtjahjo mengatakan efisiensi rute dapat memberikan dampak langsung terhadap penggunaan bahan bakar dan durasi penerbangan. Optimalisasi sistem navigasi pun menjadi salah satu instrumen yang dapat dimanfaatkan industri untuk mengendalikan biaya operasi.

Trafik Penumpang Belum Sepenuhnya Pulih

Di tengah tekanan biaya, industri penerbangan juga masih menghadapi kondisi trafik penumpang domestik yang belum sepenuhnya pulih seperti sebelum pandemi. Situasi tersebut turut memberikan dampak terhadap kinerja operator bandara.

Direktur Operasi Angkasa Pura I Agus Haryadi mengatakan produksi penumpang pada tahun ini diperkirakan masih sekitar 3% di bawah target yang telah ditetapkan.

Meski trafik belum mencapai target, operator bandara tetap mempertahankan investasi yang berkaitan dengan keselamatan operasional.

“Komitmen capex atau investasi yang terkait dengan safety tetap kami jalankan,” kata Agus.

Investasi tersebut mencakup pekerjaan perbaikan maupun rekonstruksi runway serta penambahan dan penggantian kendaraan yang berhubungan langsung dengan aspek keselamatan operasional bandara.

Pemerintah Siapkan Stimulus Nataru

Pemerintah juga menyiapkan periode Nataru sebagai salah satu momentum untuk menjaga konektivitas dan mendorong mobilitas masyarakat melalui transportasi udara.

Direktur Angkutan Udara Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Agustinus Budi Hartono mengatakan pemerintah tengah menyiapkan stimulus untuk menjaga keterjangkauan harga tiket pesawat.

Baca Juga: Kemenhub Kaji Tarif Batas Atas-Bawah untuk Transportasi Penyeberangan

Selain skema PPN ditanggung pemerintah (PPN DTP), pemerintah masih membahas kontribusi dari sejumlah pemangku kepentingan, termasuk operator bandara dan penyelenggara navigasi penerbangan.

“Untuk persiapan Nataru ini selain persiapan yang nanti kita akan persiapkan secara rutinitas, stimulus yang seperti sudah dilakukan sebelumnya itu tetap akan diberlakukan,” ujar Agustinus.

Dari sisi kesiapan armada, Kementerian Perhubungan juga akan memperkuat pemeriksaan kelaikudaraan pesawat melalui Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKPPU) serta Kantor Otoritas Bandar Udara.

Maskapai juga diminta memastikan seluruh armada berada dalam kondisi serviceable untuk meminimalkan risiko gangguan rotasi pesawat selama periode puncak Nataru.

Dengan kondisi tersebut, industri penerbangan memasuki akhir tahun dengan tantangan ganda, yakni meningkatkan kembali utilisasi armada dan jumlah penumpang sekaligus menjaga struktur biaya tetap efisien.

Di tengah tekanan harga avtur dan suku cadang, optimalisasi operasi, efisiensi rute, serta pemanfaatan teknologi navigasi menjadi sejumlah ruang yang dapat dikembangkan tanpa mengurangi standar keselamatan penerbangan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News